3 Pesilat 1 Karateka


SMAN 1 Parungkuda, tempat yang kondusif untuk siswa belajar, guru mengajar, pedagang berjualan, pegawai sekolah melaksanakan tugasnya. Tempat yang kondusif untuk kelangsungan hidup bermacam flora yang dikembangkan disana, yap. Sekolah itu pernah mendapatkan predikat sekolah hijau karna program “menjaga dan melestarikan lingkungan alam” yang dilakukan manajemen sekolah.

Salah satu tempat yang sering diminati siswa adalah DPR (dibawah pohon rindang), entah siapa yang pertama kali mencetuskan nama tersebut tapi ya begitulah .. sebuah tempat cukup besar dibawah pohon rindang itu terdapat akar yang sering dijadikan tempat duduk, ada juga balutan bata semi beton yang berdekatan dengan pohon yang juga menjadi tempat duduk. Jika duduk disana kita akan leluasa memandangi sebuah lapang rumput yang hijau menawan, selain sering dijadikan tempat melangsungkan upacara bendera, lapang itu juga sebagai tempat beberapa ekstrakulikuler mengembangkan diri (please, jangan di fahami badanya mengembang ya , hehehe).

Matahari nampak sudah berada di atas kepala, namun pohon yang rindang DPR itu menyediakan kesejukan yang berbeda, tambah sejuk jika duduk disana bersama teman, ditemani teh Manis Abah teh manis murah meriah dengan rasa yang mewah (hehe,, promo nih), memandang siswa lain ber-lalu-lalang di lorong degung Tata Usaha, dan lorong Kelas mate-matika yang letaknya seberang lapangan upacara.

Kamis, adalah jadual Ekstrakulikuler Pencak silat SMAN1 Parungkuda melangsungkan latihan. Bersama matahari yang menduduki kepala dari, bersama beberapa orang yang sedang asyik “memantau" di DPR, latihan Silat itu dimulai.

“sebelum kita melaksanakan latihan siang ini, marilah kita sejenak berdo’a menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa .... Mulai !”

Yang berbicara memimpin do’a itu adalah Ahmad, ketua Ekskul Silat di SMAN1 Parungkuda, berkulit coklat berbadan Tirusgap (tinggi kurus namun tegap). tpat disampingnya ada Arif, Sang wakil ketua yang bijaksana, pendiam dan penuh dengan misteri (ada yang bilang  juga penuh dengan kejutan). keduanya merupakan senior sekaligus pelatih untuk junior-juniornya di Ekskul Silat. Saat Ahmad memulai do’a, semua anggota Ekskul patuh dan menundukan kepala dan mengangkat kedua tangan isyarat sedang berdo’a.

“berdo’a tidak pernah selesai !” tegas Ahmad menutup do’a.

Ahmad selalu mengakhiri do’a dengan ucapan “berdo’a tidak pernah selesai” Ahmad menganggap tidak benar jika do’a ditutup dengan “berdo’a selesai” karna sejatinya kita berdo’a itu tidak pernah selesai. Setidaknya itulah yang Ahmad sampaikan kepadaku.

Yap. Aku Ibro. Aku juga Pesilat kok, hehe.

Kita bertiga terlahir sebagai pesilat di SMAN1 Parungkuda.

Bersambung ……

Eh, karatekanya mana ?

Oh ya, aku lupa judulnya 3 Pesilat 1 Karateka.
Dari 4 formasi awal sohb tiga diantaranya adalah pesilat kan, Silat adalah seni beladiri.
Sederhananya, Sebut saja dia Anwar, karena basicnya bukan diEkskul beladiri, sedangkan yang lainya punya basic beladiri, akhirnya anwar menamai dirinya Karateka. Ehe.

BTW, Anwar ini adalah orang dengan segudang prestasi loh, Smart, Good Loocking, Publick Speaking, mudah bergaul, pernah menjadi Juara Olimpiade Mate-matika di SMA. Dan menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Kelas MPK .

Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ..

Bersama daun-daun tak berdosa yang jatuh DPR
Akan kulanjutkan cerita
Selanjutnya engkau akan mengenal
Bagaimana Rasa teh Manis Abah lengkap dengan Mie nya
Bagaimana Rasa Bakso Mang Kawi lengkap dengan Harga murahnya
Bagaimana Sistem Class Moving dijalankan diSana
Bagaimana menariknya Gedung Seni
Tenang Alfonso ..
Perlahan akan terbahas,
Bersama Mang Ajid sang "penjaga" sekolah
Bersama Bah Aep yang senyumnya Abadi
Kita lihat nanti,
Sampai Jumpa

Alhamdulillah photo indah diatas didapat dari Sahabat saya. Thanks Bang Fiere
https://www.flickr.com/photos/98099987@N05/9354589477

Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email