Fitrah dan Kebingunganya

Pembacaku sukanya majas
Ia tak suka betrak betruk kejujuran
Atau kata-kata baku yang kaku

Ia lebih suka angin membelai, daun kelapa melambai
Ia tak suka sumus pitagoras
Apalagi teori Supply and Demand

 ---- ---- 

Fitrah sedang kebingungan, dia banyak menulis artikel dan essai di facebooknya, tapi tanggapanya, Fitrah rasa masih kurang. Fitrah mellihat dan membandingkan tulisanya dengan Selvie teman sekelasnya di Madrasah Aliyah Al Maktab. Selvie diketahui banyak menulis cerpen dan puisi di laman facebook pribadinya, tak jarang ia membagikan beberapa chapter novel yang sedang ia garap. Tulisanya banyak ditanggapi, jumlah like dan love nya bisa mencapai lebih dari 200 sekalinya Selvie membuat tulisan di laman facebook pribadinya.

Jumlah teman Fitrah dan Selvie sebetulnya gak jauh beda, banyak yang teman bersama (berteman dengan Fitrah juga berteman dengan Selvie) tapi kenapa tulisan Fitrah selalu minim tanggapan, berkebalkan dengan tulisanya Selvie. Fitrah paling banyak mendapatkan 15  tanggapan di beberapa tulisanya, pernah mencapai 25 like itupun cuman satu post saja. Pernah banyak komtentar sampai 100 komentar, tapi itu komentar seperti pesan saja antara Fitrah dengan Febri temanya yang lain.

Huftt, Fitrah menarik nafas panjang lalu menghempaskanya perlahan. Pikiranya sekarang penuh dengan pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana” .  ia menjadi kebingungan.

Teng teng teng .

Gak kerasa lonceng sudah berbunyi tanda jam istirahat sudah selesai.  Fitrah masuk lagi ke kelas. Duduk semanis mungkin menunggu Pak Aman datang untuk memberikan pelajaran. Pak Aman adalah seorang Guru yang mengajarkan tentang pelajaran Prakarya.

Madrasah Al Maktab sengaja mempertahankan lonceng yang lebih mirip seperti pentungan ketimbang membeli sebuah bel modern, hal ini dilakukan secara turun temurun karena merupakan Khasiat dari Alm. KH M Sumardi yang merupakan pendiri dan pemilik Yayasan yang membawahi Madrasah Al Maktab.

“Assalamu’alaikum anak-anaku”

“wa’alaikumussalam Pak.”

“anak-anaku yang hebat, semoga Alloh senantiasa memberikan rahmat dan berkatnya kepada kita dari dunia sampai Akhirat”

“istajib du’ana ya Mujibassailin, AAmiin “

Percakapan Guru-Murid ini sudah biasa gitu disekolahnya Fitrah, sebelum Guru menjelaskan pelajaran Guru harus dibiasakan memberikan salam dan do’a terlebih dahulu kepada Muridnya, dan Muridnya harus menjawab salam sang Guru, juga mengamini setiap do’a yang dipanjatkan sang Guru.

“anak-anak ku, khusus kali ini kita akan membahas seni yang tidak diajarkan di buku Seni yang biasa kita pelajari ya, kenapa ? karena bapak ingin memberikan anak bapak ilmu yang bisa dimanfaatkan seccara langsung dan langsung dipraktikan”

Setelah mendapatkan persetujuan dari Murid, Pak Aman pun mulai menjelaskan apa yang menjadi pembahasanya dengan santai dan perlahan  kepada Murid-,muridnya. Fitrah mendengarkan dengan seksama, dan mencatat hal-hal penting yang perlu dicatat.

---- ----- 

Dari kamar mandi, Fitrah langsung bergegas masuk kamar, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk namun tetap menutup rambut dan tak membiarkan rambutnya keluar sehelaipun. Sejurus kemudian Fitrah mengambil kerudung langsung pakai yang biasa ia pakai ketika dirumah. Fitrah termasuk orang yang rapi dalam menutup aurat, Fitrah selalu membawa 1 kain lebar untuk menutupi badanya sampai kaki dan 1 handuk besar untuk menutupi rambutnya sebelum ia mandi. Supaya auratnya tetap tertutup.

dipilihnya kerudung yang langsung pakai biar simple kalau mau dipakei. Selain itu Fitrah juga memilih kerudung ukuran besar hingga menutup bagian dadanya sampai ke bawah pusar. Dan Fitrah Nyaman dengan kondisi seperti itu.

“Cinta itu seperti hujan, aku sudah tau teorinya
Namun kebearadaanya tidak bisa ditebak jauh-jauh
Cinta kadang seperti petir, tak memiliki alasan untuk marah
Kecuali karena ada gesekan

Nah ekarang kita akan bahas hubungan antara cinta dan hujan dan petir ya “
Tulis Fitrah dalam catatanya, ia terbiasa menulis catatan sebelum dijadikan sebuah post di facebook milik pribadinya . tiba-tiba Fitrah menjadi puitis , membuka paragraf awal eseainya dengan puitis.

Tak banyak memakan waktu, catatan Fitrah dalam lembaran kertas itu sudah terisi padat dengan goresan tFitrahya . setelah dilihat dan diberikan koreksi dibeberapa kalimat, Fitrah mantap memindhkan kertas catatan itu kedalam layar Oppo A3s miliknya, sejurus kemudian Fitrah berhasil menekan perintah kirim di laman facebooknya.

Tanpa menunggu lama, tulisan Fitrah langsung diserbu teman-temanya di faccebook. Like love dan komentar mendarat di tulisanya Fitrah. Fitrah pun tersenyum bahagia, kebingunganya menghilang.

 ---- ---- 

“anak-anak ku, khusus kali ini kita akan membahas seni yang tidak diajarkan di buku Seni yang biasa kita pelajari ya, kenapa ? karena bapak ingin memberikan anak bapak ilmu yang bisa dimanfaatkan dan langsung dipraktikan”
“kita akan membahas tentang pentingnya survei untuk menentukan karya apa yang harus kita buat . sebagai seorang seniman yang pintar, kita juga harus pintar memilih karya yang tepat untuk orang , waktu dan lokasi yang tepat. Jangan sampai kita membuat kaligrafi bahasa arab di vatikan misalnya, walaupun mungkin ada saja orang yang tertarik , namun peminatnya tidak akan banyak.”

nusagates.com




Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email