Santri Perempuan


“Santi … Kenapa ngelamun ? Udah nyiapin makan buat buka puasa belum ?
“Eeeh, enggak kok enggak melamun ..”
Santi yang memang sedang melamun didepan kamar kobongnya kaget dan terlihat salting menjawab pertanyaan mendadak dari Yuli sahabatnya.

“Belum Yul”
lanjut santi kali ini tak mau terlihat salting.

“Aku mau ke warung depan cari jeruk sama roti, kamu mau ikut ga ? ajak Siska.
Eh iya atuh aku ikut , jawab santi sambil mengangguk

Senja di kobong memang indah, pemandangan khas senja yang menenangkan, berkolaborasi dengan lantunan Nadhom Aqidatul Awwam Karangan Syeh Marzuki yang berisi tentang Ringkasan Aqidah yang sangat mudah difahami untuk orang yang baru belajar, Nadhom ini biasa dilafalkan bareng-bareng oleh santri baru di dalam mesjid yang berada ditengah-tengah pesantren AL Maktab. Kolaborasi itu sangat apik Sehingga menampilkan sajian Senja Khas Pesantren, yang selain Indah tapi juga menenangkan.

Hari ini hari senin, senja ini biasanya para santri sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa sunnah senin-kamis. Santi dan Yuli berjalan perlahan dari tempatnya berasal menuju warung sekaligus koperasi Syariah yang masih berada dilingkungan pesantren.

Al Maktab dan daerah-daerah lainya di Sukabumi, sampai Agustus ini masih belum menerima hujan. Tak ayal jalanan berdebu sudah menjadi pemandangan tak aneh, begitupun dibeberapa titik di tengah jalan yang akan dilalui Santi dan Yuli. Meski begitu, Keduanya sama sekali tak mengangkat gamis untuk menghindari ci Lencang (sebutan air yang menggenang) mereka dan santri-santri perempuan di Al Maktab memang terbiasa dengan itu, disana memang diajarkanya begitu.

Dari seorang ibu putra Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam‘Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat kotor?’ maka Jawab Ummu Salamah, bahwa Nabi pernah bersabda, Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Imam Malik dan Tirmidzi. Hadits shahih) “

“Ti, tadi kenapa ngelamun Ti ?  “ sahut Yuli kepada santi sambil jalan
“eh enggak kok, itu gak ngelamun” wajah Santi memerah tanda ia kembali terlihat malu dan salting.
“udah cerita aja, kamu lagi ngelamunin apa si” paksa yuli yang penasaran kepada tingkah santi
“hehe, ini Yul aku diminta Ari nemenin Hilman bacain terjemahan Ayat Al Qur’an yang Hilman bacakan”





Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email