Hari ke-1 Ngodop | Hakikat Sebuah Harapan

13 komentar


Di suatu ruang jingga lebih banyak hitamnya, ruang kosong , gelap, terdapat 4 lilin sedang khusyuk bertukar kata membuat warna jingga. Di sana ada obrolan luar biasa yang bisa kita ambil hikmahnya, jika kita mengetahuinya.

Cerita ini sebetulnya sudah malang melintang di dunia motivasi, mungkin banyak dari kita sudah mengetahuinya. Sengaja aku hadirkan kembali kisah ini dengan redaksi kata yang berbeda, dengan harapan terjadi penyegaran namun tetap mampu memberikan motivasi untuk semuanya

. :  Hakikat Sebuah Harapan : .

Di suatu ruang , terdapat 4 lilin sedang bertukar kata,  setiap tuturnya berubah menjadi cahaya dan membuat mereka berwarna jingga, sementara kebanyakan sudut lain diruang itu hitam gelap tanpa cahaya.

Satu lilin bertutur kata..

"Aku ini rasa malu pada diri manusia, sudah sepantasnya aku padam saat ini juga, manusia tak lagi peduli denganku, bertingkah sesuka mereka tanpa peduli dengan aku. Pergaulan bebas merajalela, aborsi sudah biasa orang tua menanggung derita"

Sesaat kemudian, jingga berkurang volumenya, satu lilin padam. Rasa malu namanya

Di sampingnya satu lilin menghela napas, seolah itu adalah napas terakhirnya.
Ada sesak yang ia rasa, hingga akhirnya ia angkat bicara

"Aku ini rasa semangat mencari ilmu pada manusia. Tak tahan lagi aku hidup, menyala, manusia tak lagi peduli denganku. Mereka sudah melupakan aku, tak ada getaran semangat di dada mereka , sedikit pun tak ada. Manusia sudah tertipu dengan rutinitasnya, mengabaikan aku yang padahal penting untuk bekal mereka"

Setelah kata tertipu, suara lilin kedua ini mulai melemah, pun dengan cahayanya juga ikut melemah . dan ketika ia setelah bertutur kata, ia pun terdiam berhenti menyala. Redup dan padam. Ia sudah tiada

Di sampingnya. Lilin ke 3 terbatuk-batuk menahan dahak, ia terpaksa bertutur kata.

"Aku ini rasa ingin berjuang pada manusia, aku sudah tua. Manusia itu jarang melekatkan aku pada dadanya.  Kecuali masa kecil mereka. Aku tak lupa masa-masa itu, tapi karena lama tak mereka gunakan, akupun lelah, kurasa tak sanggup lagi aku menahan nyawa, aku tak sanggup tetap ada"

Sudah bisa ditebak, ia pun padam.

3 lilin itu padam, jingga diruang semakin tak terlihat, cahanya mulai pudar. Angin pun bersemayam di sana, membuat ruang menjadi dingin setelah gelap. Ketiganya padam karena putus asa. Merasa merasa tak dibutuhkan, merasa tak lagi pantas digunakan.

Ruang begitu gelap, namun masih ada secercah cahaya membuat jingga bertahan, namun kecil dan sering rapuh namun cahaya itu tetap mampu untuk bertahan. Ia adalah pejuang, namun seringnya, ia tertahan, manunggu waktu yang tepat untuk angkat bicara.

"Hah. Kurasa ini waktu yang tepat, bisa kuterima alasan ke 3 sahabatku padam, memang selama kita bersama, manusia sangat jarang menggunakan mereka. Tapi ini bukan akhir , karena aku adalah harapan. aku memang kecil, namun cahaya ku masih bisa menyelamatkan kalian, bangunlah wahai sahabat, bangun .. bukan waktunya untuk padam, biar Alloh yang berkehendak. Selama ada aku, kita harus tetap bertahan dan terus berusaha, biar Alloh yang menilai. Percalah sahabat-sahabatku, ayo Bangun dan nyalakan kembali cahaya kalian"

Si kecil lilin ke 4 itu membangunkan lilin 1 2 dan 3, walaupun dengan secercah cahaya saja. Itulah hakikat sebuah harapan, selalu ada walaupun kecil.

Ruangpun mulai terlihat berwarna, cat tembok itu mulai terlihat, lukisan langit terlihat indah walaupun hanya 4 lilin yang meneranginya.

#ODOPBatch7 #KomuniasODOP #OneDayOnePost
#KMPSMIBatch2 #KelasMenulisPerpustakaan

Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

13 komentar

  1. Merasa istimewa karena cerita ini awalnya untuk menyemangati yuli dan kawan2 di KMP. 💪💪☺️

    BalasHapus
  2. Semangat Teh Yuli, gimana dah ketemu sama widget followers nya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kang, jadi sekarang akang bisa ng follow yuli heee

      Hapus
  3. Wah bagus banget cerita motivasinya.. banyak hikmah yang bisa diambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Ka, terimakasih ya sudah mampir

      Hapus
  4. Balasan
    1. Alhamdulillah Kak Habibi, teterimakasih ya sudah mampir

      Hapus
  5. Balasan
    1. Asyiap, segera di eksekusi blognya.
      makasih sebelumnya sudah mampir kesini ya

      Hapus
  6. "Disana" atau "di sana"? Hehehe. Saya hanya akan mengomentari penulisannya ya, kalau isinya sih bagus banget.

    Agak terganggu dengan kalimat "...meski ... namun ...". Setahu saya, jika sudah ada kata kata "meski", tidak perlu menggunakan "namun" atau "tetapi".

    Contoh:
    1. Teto anak pintar, meski aura gantengnya tak berpendar.

    2. Wanita bersyal merah itu terlihat elegan. Namun, ia menjadi bahan perbincangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya ada juga yang berbaik hati mengomentari tulisan saya, Alhamdulillah jazakillah khoir, segera saya perbaiki ya. hehe,

      Hapus
  7. kalimatnya melow semua... kalau temanya harapan sepertinya lebih menggebu kalau pake pilihan kata yang sederhana untuk diskripsinya.

    seperti kalimat "Ruang begitu gelap, namun masih ada secercah cahaya yang masih bertahan, meski kecil dan sering rapuh (sering rapuh itu maksudnya gimana ya? aku bgg) cahaya itu tetap mampu untuk bertahan. Ia adalah pejuang, namun seringnya, ia tertahan, manunggu waktu yang tepat untuk angkat bicara...

    alur di paragraf itu sengaja dibolak balik gitu ya..
    .

    BalasHapus
  8. tadinya aku pikir rapuh untuk menggambarkan keadaanya yang down.

    soal kalimat-kalimat yang terlihat melow aku juga ingin menggambarkan kalau disaat yang melow pun harpaan masih ada gitu.

    gimana, apakah jawaban aku keterima ?

    baydewey Kak, makasih ya dah mampir dan memberikan masukan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email