Masih Draft


Perempuan Suci Penunggu Curug
***
Langit Cidolog yang masih dalam wilayah Kerajaan Padjajaran, malam itu kedatangan banyak bintang dan satu bulan. awan-awan hitam yang biasanya bermain di langit, diusir lah oleh bulan dan bintang itu. Malam pun menjadi lebih ramai.

Di bawah langit, pasukan dingin datang menyengat. Berpatroli di kedalaman hutan yang luas dan rindang. Bukit-bukit sedang berbaris menyambut bintang, ada juga sungai dan Curug, duduk manis menyambut bulan. Oh ya, ada lagi yang ikut menyambut bulan dan bintang. Ialah sebuah gubuk yang masih menyalakan lilin sebagai penerang malam.

Tiba-tiba….

“Oaa oaaaa, oaaaa” Tangisan bayi terdengar, asal suaranya dari gubuk yang menyala itu.

“Alhamdulillah Pak, Bu, bayinya perempuan” sahut Ma Beurang (sebutan untuk dukun beranak di kampung).

Wah… “ Bu Minah tersenyum sejenak, “alhamdulillah Pak, bayi kita sudah lahir” ucap bu Minah kepada suaminya.

“Wah…” Pak Abdul ikut tersenyum sejenak,“lucu ya Bu… anak kita perempuan” seru Pak Abdul.

Suami-istri itu sangat berbahagia karena Allah karuniakan mereka bayi yang lucu untuk menemani kehidupan mereka ke depannya. Masya Allah tabarokalloh

“Anaknya mau diberi nama siapa Bu?” tanya Ma Beurang.

“Kita kasih nama Siti saja Bu, Bapak sudah istikhoroh Pak Abdul menjawab.

Langit malam itu berubah menjadi hangat, sosok bayi lucu sehat dan cantik itu pun disambut bulan, bintang dan teman-temannya. Tangisan Siti seperti jam weker. Membangunkan hewan dan tumbuhan yang sebelumnya sudah tertidur pulas.

Allohu akbar Allohu Akbar

Siti kecil diperdengarkan azan oleh Pak Abdul, tiba-tiba tangisan nya berhenti. Seolah menikmati setiap kalimat indah panggilan Illahi yang masuk lewat telinga kanan dan kirinya. Tangannya meronta, kakinya menendang-nendang, Siti kecil terlihat bahagia.

Lalu Pak Abdul berkata…

”Nak, Bapak ingin kamu jadi perempuan yang sholehah, sabar, ikhlas dan tawakal ya nak, Kamu jangan pernah ninggalin solat, karena solat tiangnya Agama, kamu jangan pernah membuka aurat, karena membukanya sama saja membawa Bapak ke neraka. Kamu nanti belajar ngaji ya, biar ngerti Agama, biar nanti jadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak. Satu lagi nak, Bapak sama Ibu sayang sama kamu. Muuuach


17 tahun kemudian …..

“Siti, punten, ambilkan kayu bakar yang di teras rumah ya, Ibu mau masak” ujar Bu Minah meminta tolong Siti.

“Oh iya Bu, sebentar, segera Siti bawakan, tunggu ya Bu” Jawab Siti dengan lembutnya .

Sejurus kemudian, Siti beranjak ke teras sesuai permintaan Ibunya. Dan berhasil mengangkat banyak kayu dengan selendang nya, lantas membawa kayu itu ke dapur seperti permintaan Ibu tercinta.

17 tahun berlalu, bayi kecil nan lucu itu kini tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik, berakhlak baik, dan tak pernah sekali pun Siti membantah perintah atau  menolak permintaan kedua Orang tuanya.

Bu ini kayunya, Ibu mau masak apakah? Boleh Siti bantu?tanya Siti.

Siti melepaskan selendang di pangkuannya, lalu menyodorkan kayu itu secara perlahan ke Ibunya. Sambil senyum dan hati-hati, dipindahkan lah kayu yang ia bawa ke Ibunya.

Yang dilakukan Siti merupakan suatu adab yang tinggi dari anak untuk orang tua, khususnya seorang Ibu. Lemah lembut kepada orang tua, berhati-hati, dan tidak menyakiti.

Oh iya boleh nak, sebentar lagi kan Bapakmu pulang, kita masak ikan untuk Bapakmu ya” jawab Bu Minah.

Gumpalan asap keluar dari bilik rumah Bu Minah. Tanda bahwa rumah itu sedang memasak sesuatu. Kini Siti kecil sudah beranjak dewasa, sudah mengerti hakikatnya sebagai perempuan itu seperti apa.

Banyak waktu ia habiskan di rumah dengan membantu Bu Minah, Ibu tercinta. Sesekali di ajak Pak Abdul jalan-jalan mengelilingi dusun, naik turun bukit, bermain di curug dan memancing ikan di sungai.

Assalamu’alaikum ..” Terdengar sahutan salam di balik pintu

Wa’alaikumussalam, tunggu sebentar ya” balas Bu Minah.

“Nak, sepertinya ada tamu di depan. lanjutkan goreng ikannya ya, hati-hati jangan sampai gosong” pinta Bu Minah “Ibu akan ke depan melihatnya”

Beres Bu, goreng ikan doang mah kecil, pokoknya serahkan ke Siti” ujar Siti sambil membuka senyum.

Bu Minah beranjak dari dapur. Sambil merapikan samping sarung dan kerudung yang dipakainya, Bu Minah berjalan menuju pintu untuk menemui tamu.

“Sebentar” sambil membuka pintu
“Eh ternyata Bapak, hayuk masuk Pak, ibu kira siapa, itu Ibu sama Siti sudah masakin ikan buat kita makan” ajak Bu Minah kepada tamu yang ternyata adalah Pak Abdul, suaminya.

“Ayo dimakan Pak, ini Siti yang buat loh” bujuk Bu Minah.

“Waah….” Wajah Pak Abdul tersenyum senang, “senangnya Bapak, pulang mengembara sudah disiapkan makanan sama Siti, makasih ya Nak, Bapak sayang Siti”

Sama-sama Pak, Siti juga Sayang Bapak ucap Siti.

“Ya sudah, ayo kita berdoa sebelum makan ya” ajak Pak Abdul memberi teladan

Bismillahirrohmanirrohim, Allohumma bariklana fii maa rozaktana wakina adza bannar

Bu Minah, Pak Abdul dan Siti makan perlahan dengan lahap. Dimulai dari memakan makanan yang ada di pinggir piring, lanjut ke tengah. Semua yang disediakan di atas piring, habis tidak tersisa. Karena kalau tersisa bisa mubazir dan jadi dosa.

***

Langit di Cidolog cerah seperti biasanya, burung-burung bernyanyi, pohon saling melambaikan rantingnya. Beberapa awan berjalan malu-malu karena dilihat matahari. Pagi itu keluarga Pak Abdul kedatangan tamu tak terduga.

Assalamu’alaikum..” sahut seorang pria bertubuh dewasa, di belakangnya ada pemuda yang sebaya dengan Siti.

Wa’alaikumussalam, mangga silakan masuk”

Tamu dipersilakan masuk. Siti membantu Ibunya mempersiapkan jamuan. Bapaknya menemani dan mengobrol dengan tamu. Setelah berbincang-bincang, ternyata tamu itu punya maksud ingin menikahkan Siti dengan Pemuda yang dibawanya.

Menurut kebiasaan di Cidolog, jika ada laki-laki datang melamar perempuan, maka keluarga perempuan harus merundingkan nya terlebih dahulu dengan si perempuan, supaya pernikahan berlangsung atas dasar kerelaan, bukan keterpaksaan.

Setelah berunding, Siti menerima. Akhirnya disampaikanlah oleh Pak Abdul kepada tamu, bahwa Siti menerima pinangan tamu. Akad nikah pun dilakukan lusa supaya tidak terjadi fitnah.

Sehari sebelum pernikahan….

Bau amis darah tercium segar, berasal dari kambing dan ayam yang sengaja disembelih untuk menjamu calon besan. Rumah Siti mulai ramai didatangi tetangga. Ada yang datang sekedar ingin tahu, ada juga yang datang membantu. Menyiapkan pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari.
Tiba-tiba…

“Bu, Bu, kok mau sih si Siti dinikahkan sama orang gajelas? mending sama si Dirman tuh, orangnya kaya, anak kepala dusun, turunan kerajaan pajajaran pula” cetus Ceu Edoh ke Bu Minah.

Kalau saya jadi bu Minah, saya enggak akan mau deh nerima pinangan gajelas itu” Ceu Edoh melanjutkan ketusnya.

Oh ya… Ceu Edoh adalah tetangganya Bu Minah. Di Cidolog, Ceu Edoh memang terkenal dengan sikapnya suka mengomentari hidup orang lain, suka mencampuri urusan orang lain. Padahal hidup sendiri saja belum benar, urusan sendiri saja masih harus diperbaiki. Tapi ya begitulah Ceu Edoh suka membuat orang kesal.

Hoalah Bu, enggak apa-apa. Kita sebagai muslim kan sudah diberi contoh oleh Rosul. Apabila datang kepada kita seseorang yang bagus agamanya hendak melamar anak kita, maka terimalah, kalau enggak maka akan terjadi fitnah. gitu kan Ceu?” Bu Minah mengelak tudingan Ceu Edoh..

Halah! hari gini tuh ya kita harus bisa ngaturnya. Harus dilihat ke depan, masa depan Siti nantinya gimana? Jangan biarkan masa depan Siti jadi suram loh Bu!” seru Ceu Edoh dengan nada tinggi.

Masa depan itu sudah Allah jamin kok Bu, selama kita ta’at, menjanlankan perintahnya, menjauhi larangan-Nya, dan selalu berusaha berbuat baik terhadap semua urusan. Allah pasti jamin kelayakan hidup kita kok Ceu Bu Minah mengingatkan dengan lembut.

Ah sudah! Sudah! susah kalau ngomong sama orang gak ngerti kayak Bu Minah. Saya pamit, assalamu’alaikum pamit Ceu edoh dengan ketusnya.

Wa’alaikumussalam. jawab Bu Minah.


“Ada siapa Bu, kok kayak ribut-ribut? datang Pak Abdul.

Itu ada Ceu Edoh mampir Pak” jawab Bu Minah

“Ceu Edoh kenapa? Kok Bapak denger tadi agak keras ya Ceu  Edoh bicaranya. Sebenernya ada apa ya Bu?” tanya Pak Abdul keheranan.

Enggak apa-apa kok Pak, sudah yuk kita ke dalam, Sambil menyiapkan untuk besok

***

Hari esok pun tiba, akhirnya Siti menikah, Siti dan keluarga terlihat berbahagia, tapi tiba-tiba ada utusan dari Kerajaan Padjajaran datang..

Saudara-saudara, warga Padjajaran, karena keadaan penting dan genting, bersama utusan ini, saya Raja Padjajaran memerintahkan kepada setiap warga. wajib mengirimkan satu orang laki-laki untuk membantu kerajaan Padjadjaran di medan perang.” begitulah kira-kira ucapan utusan kerajaan di depan rumah siti yang sedang ramai oleh warga yang menghadiri pernikahan.

Pernikahan yang seharusnya indah itu, seketika berubah. Panik, cemas, dan takut semua dirasakan warga yang hadir pada waktu itu.

Sore harinya, para pria warga Cidolog berkumpul di sepetak lahan dekat curug. letaknya lumayan jauh dari tempat warga bermukim.  Mereka sedang bersiap-siap, Bapak dan suami Siti termasuk di antaranya.
.
Siti mengikuti dari belakang. Berharap Bapak dan Suaminya tidak jadi pergi, tapi apa daya. Takdir sudah tertulis. Di bawah pohon dan semak dekat curug itu, Siti menyaksikan Bapak dan Suaminya pergi.

Di sanalah Siti melihat Bapak dan Suaminya untuk terakhir kalinya.

Kabar meninggalnya pasukan Padjadjaran yang kebanyakan berasal dari warga Cidolog berhembus ke telinga Siti dan Bu Minah. Padahal selama beberapa bulan ini keduanya giat merapikan sepetak lahan sekitar Curug untuk menyambut kedatangan suami mereka untuk dijadikan tempat singgah yang nyaman.

Sedih bukan main keduanya mendapatkan kabar itu dari utusan Padjajaran. Siti pingsan berkali-kali karena tak mampu menerima kenyataan bahwa Bapak dan Suaminya telah tiada.
“Nak, sudah ya, kita jangan bersedih lagi hakikatnya setiap yang bernyawa itu pasti mati. Kita tinggal menunggu waktu saja” ucap Bu Minah menenangkan Siti

Siti mengangguk dan jatuh di pelukan Sang Ibu.

Beberapa bulan kemudian, Siti kembali mendapatkan lamaran dari seorang pemuda, kali ini adalah seorang pedagang yang kebetulan sedang mampir. Pemuda itu mendapatkan kabar bahwa di Cidolog ada seorang perempuan cantik wajah dan akhlaknya, taat beribadah, sering bersedekah, selalu membantu orang tuanya tanpa membantah.

Lamaran itu kembali diterima, akad segera di adakan untuk menghindari fitnah. Tapi tidak lama setelah pernikahan itu, utusan kerajaan kembali datang meminta pasukan. 

Apa mau dikata, Siti terpaksa menerimanya. kalau urusan kerajaan siti tidak bisa menolak walaupun sangat khawatir. Dengan sabar Siti menunggu suaminya pulang, dirapikan lagi sepetak lahan dekat curug itu, Siti membuatkan surau dan tempat istirahat dengan bahan se adanya, bersama Bu Minah, Siti berjuang membangun area itu untuk menyambut suaminya.

“Mudah-mudahan suami Siti pulang dengan selamat ya Bu” do’a Siti

“Aamiin, Ibu juga berharap seperti itu” Bu Minah mengamini.

Setelah dua bulan lamanya….

“Pengumunan! Pengumuman! kerajaan Padjajaran kembali kalah, semua pasukan cidolog yang dikirimkan, tidak ada yang selamat” teriak seseorang penyampai kabar.

Siti tak kuasa menahan tangisnya, pingsan berkali-kali karena tak bisa menerima kenyataan. Lagi-lagi hati Siti remuk, ayah dan kedua seuaminya pergi begitu cepat sebelum mereka bisa berbahagia dan membangun sebuah keluarga.

“Sudah nak, sudahi ratapanmu itu, ingat kata firman Allah, setiap yang bernafas pasti akan mati, kita tinggal menunggu waktu saja. Tapi sebelum itu terjadi, ayok kita bangkit dan melanjutkan hidup” ucap Bu Minah kembali menenangkan.

Genderang perang antara Kerajaan Padjajaran dan Kerajaan Banten masih terjadi kala itu. Tak bisa di elakkan, seringnya pasukan Padjadjaran mengalami kekalahan.

Hari berlalu, setelah masa idahnya, Siti kembali dilamar seorang pemuda. Namanya Boros Kaso. ia adalah seorang santri pengembara. mendengar kabar kecantikan akhlak dan wajah Siti, santri itu lantas berniat menjadikan Siti menjadi istrinya. Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Siti pun menerima lamarannya. Keduanya melangsungkan akad saat itu juga untuk menghindari fitnah.

Surau yang dibangun di area curug itu diperbesar. Suaminya membuka pengajian untuk anak-anak yang ditinggal bapaknya mati di medan perang. Keseharian mereka kini lebih berkah, mengajarkan ilmu agama.

Setelah sekian lama, utusan Padjajaran kembali datang. Suaminya adalah laki-laki yang tersisa di Cidolog, dan ia harus pergi. Siti tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menangis.

“Kenapa ya Allah, kenapa terjadi lagi!?” bisik Siti ke langit dengan sedihnya.

Sebelum berpisah, Boros Kaso berjanji akan pulang dengan selamat, dan meminta Siti melanjutkan pengajian seperti biasanya.

“Batu curug itu mirip sekali dengan Siti, Saya pasti mengingat daerah ini. Saya akan kembali dengan selamat. Tunggu Saya sambil mengajarkan mereka ilmu Agama” ucap Boros Kaso.

Siti melepas kepergian suaminya dengan salam, berhari-hari berlalu. Dengan kecemasan dan kekhawatiran yang tak bisa di usir, Siti terus menunggu. Sambil melaksanakan amanat suaminya untuk tetap melaksanakan pengajian di dekat curug itu.

Hari terus berganti, bulan juga ikut berganti. perasaan di hati suci Siti masih mempercayai bahwa suaminya akan menepati janji. Pulang dengan selamat. Dan melanjutkan hidup bersama membangun rumah tangga yang sakinnah mawa’dah dan warrohmah.

Di medan perang…

Allahu Akbar, Allahu Akbar” teriak Boros Kaso ketika akan berhadapan dengan pasukan Banten.

“Hei tungggu dulu! Sepertinya kita bersaudara” ucap salah seorang pasukan Banten.

“Ya, Saya muslim, terpaksa mengikuti perintah kerajaan Padjaran”

“Ah begitu ternyata, ya sudah, sebaiknya kamu pulang. Ini bukan perangmu.”

Akhirnya pada suatu hari, Boros Kaso memenuhi janjinya. Pulang dengan selamat. pasukan Banten yang menjadi musuh pasukan Padjajaran mendengar ucapan allahu akbar  dari Boros Kaso ketika berperang dan mempersilakan Boros Kaso untuk pulang.

Siti dan Boros Kaso melanjutkan pengajian di sekitar area curug itu dengan bahagia.

Siti yang belum memiliki anak dari Suami manapun. Makannya banyak warga menyebut Siti dengan panggilan Caweni (perempuan yang sudah nikah, namun masih suci). Begitu pun curug yang menjadi perjuangan Siti. Disebutlah curug dengan sebutan Curug Caweni.

Sekian









Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email