Penjahit - Episode 2

18 komentar
Joe Neric


Zona Nyaman


Matahari baru saja naik, embun di dedaunan itu juga ikutan naik. Perlahan dingin berubah menjadi hangat. Dan orang-orang mulai berlalu lalang.  “Ah Nikmatnya” ucapku setelah menyeruput kopi hitam di sebuah warung dekat jalan protokol Sukabumi-Bogor.

Sayup-sayup suara musik terdengar dari sesorang yang sedang asyik memainkan gawai sambil ngopi di sudut warung.

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang hilang materi
Rasa bosan membukakan jalan mencari teman
Keluarlah dari zona nyaman

FourTwenty - Zona Nyaman (Original Soundrack Filosopi Kopi 2)

Huftt. Aku menarik nafas. Setelah ku pikir-pikir lagi, teringat sikap Mr Lee hari kemarin sebelum libur, aku harus segera bisa keluar dari tempat neraka itu. Ditambah mamah sepertinya makin ke sini makin menginginkan aku segera menikah. Entah mungkin aku terlalu lama di zona nyaman hidup dengan orang tua, segala serba ada. Jadi enggak terlalu nganggap urgent untuk keluar dari pabrik itu. Tapi kali ini aku serius. Aku ingin keluar dari zona nyaman.

Kopi di cangkir itu tinggal ampasnya saja, pisang gorengnya juga. Tinggal minyaknya saja. Tandanya kalau aku harus pergi.

“Kang, uangnya di atas piring ya. Nyanggakeun nampi Kopina haturnuhun*” teriakku ke si Akang pemilik warung. Sejurus kemudian aku melaju kencang bersama Pulsar P200 DTS-I Red Wine, pergi membelah jalanan. Sayup-sayup terdengar si Akang tukang gorengan memanggil dari kejauhan. Ah mungkin saja dia protes karena uangnya kelebihan.

Seharian bekerja, penat, terkekang, sering bosan. Tak jarang aku melampiaskan semuanya dijalanan. Memacu kuda besi secepat mungkin, aku gak tahu angkanya berapa km per jam, karena Lampu depan sudah kuganti dengan lampu bulat seperti Tiger atau Mega Pro. Speedonya sudah ku copot. Yang pasti, aku menyalip banyak mobil di jalan yang tidak macet.

Tapi gak lama sih. 5 menitan paling. Setelahnya aku sadar kalau itu cukup membahayakan, makannya laju kuda besi ku normalkan kembali.
Hari ini aku akan mengikuti kelas menulis yang di adakan dinas perpustakaan daerah tempat tinggalku. Jaraknya dari rumah sekitar 90 menit.

Sepanjang jalan selain memacu kecepatan, tak jarang aku mengaji dengan suara yang keras. Di dalam helm full face bebas saja kulakukan. Untuk apa? Alasannya adalah aku berimajinasi menjadi seorang Muzammil Hasballah. Dan di atas motor dengan helm full face, rasa percaya diriku meningkat drastis. Singkatnya aku berpikir gak bakalan ada yang menertawakan suara ku. hahaha  

***
“Tugas pertama kalian adalah dalam sehari harus membuat satu post. Lakukan selama kalian mengikuti kelas ini ya” ucap Bu Ivet. Mentor ku di kelas menulis perpustakaan.

Aku seorang buruh, pegawai di perusahaan pembuat celana jeans. Tidak ada salahnya aku berharap menjadi penulis bukan? Aku tetap bisa melanjutkan pekerjaanku sambil belajar menjadi penulis. Suatu saat nanti aku ingin menjadi penulis yang bermanfaat.

Siapa tahu, dari menjadi penulis, aku bertemu dengan kerjaan baru yang lebih baik.

Siapa tahu, dari menulis aku bisa bertemu dengan jodoh impian. Yang pasti tak ingin berjodoh dengan sesama pegawai garmen. Kalau dengan sesama penulis kan enak, katanya penulis selalu punya pengetahuan yang luas karena sering membaca. Wah, siapa berita bagus kan kalau berjodoh dengan orang yang demikian.

Eh. harus nulis apa ya? duh. bisa bertahan gak ya di kelas ini? katanya kelas menulis ini kalau kita tidak memberikan tulisan sesuai target. jangan harap bisa lanjut dan membuat prestasi

Catatan :
*akad jual beli berbasaha sunda, saya serahkan uangnya. Saya terima kopinya. Terima kasih
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

18 komentar

  1. Mengingatkan beberapa tahun lalu. ... Hikhikhik

    BalasHapus
  2. Udah episode kedua aja, aku belum apa-apa hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Dong. ini sebetulnya sudah selesai, tinggal antri terbit (hehehe. padahal mah belum)

      aku sih gak Khawatir sama Bu Ren, tau-tau nanti melesat aja.

      Hapus
  3. Apakah ini kisah nyata? Atau terinspirasi kisah nyata penulisnya? Jeng jeng jeng... 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya, menulis dengan latar yang pernah di alami si penulis, bakalan lebih enak nulisnya Teh Lia. hehe, untuk bisa lulus dari ODOP, aku gak mau ambil resiko bikin cerita baru, hehe. jadi ya modifikasi kisah nyata aja jadinya. hik hik hik

      Hapus
    2. Mantap, Kang. Lanjutkan! 💪😊

      Hapus
    3. Alhamdulillah.. Haturnuhun Teh Lia

      Hapus
  4. Kalimat pembukaannya pas..bisa ngebayangin suasana dalam cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. di pas-pas in, kemarin belajar lagi dari Uncle. hehe

      Hapus
  5. Dan saya harus baca bagian perdananya... Keren Kang Ninja, semangat!

    BalasHapus
  6. Kang, sepertinya ini cerita asli ya kalo dianalisis dari lingkungan kita. Semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiih. dianalisis nih. Alhamdulillah

      Katanya nih Kang, menulis dengan latar yang pernah di alami si penulis, bakalan lebih enak nulisnya. hehe, untuk bisa lulus dari ODOP, aku gak mau ambil resiko bikin cerita baru, hehe. jadi ya modifikasi kisah nyata aja jadinya. hik hik hik

      Hapus
  7. Wih, ceritanya bagus kak, seru.😀👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email