Penjahit - Episode 3

Alexander Andrews



Penjahit Kata

"Wah, tulisannya bagus" tulis LInda

"Paragraf pertama masih gemuk tuh Mas Ibra" Hendra berkomentar

"#semangat menulis" tulis Agus

"Ada typo di paragraf kelima tuh Kang" komen Ridwan

"Bagus Kak Isinya, tapi gimana kalau paragraf pertama dipangkas yang tidak perlunya. Terus di paragraf ke dua tuh kak penulis di-tempat seharusnya dipisah ya. Satu lagi, saran saya sebelum menulis diendapkan dulu ya. Semangat Kak" tulis elfira

Postingan pertama ku di Blog setelah tugas itu, disambut berbagai komentar rekan sesama penulis pemula, rekan di kelas menulis perpustakaan. Rasanya seperti apa? Wah senang dong, merasa dihargai. Walaupun hal serupa juga terjadi di Facebook atau instagram, tapi ada yang berkomentar di blog pribadi itu rasanya beda banget. Senengnya lebih.

Tulisan pertama ku bertema tentang menulis. Syukurlah kalau banyak yang berkomentar positif. Walaupun aku Khawatir jangan-jangan mereka terpaksa berkomentar karena blogwalking mengharuskan peserta berkunjung ke blog peserta lainnya, kalau tidak ya bisa kehilangan viewers nantinya karena blog kita enggak di publish di list blogwalking.

Mendapat komentar positif tentunya membuat hati menjadi besar, lantas bersemangat untuk melanjutkan tulisan-tulisan lainnya. Aktivitas menulis ini juga  Menjadi hiburan ditengah lelahnya kerja. Apalagi tatkala Mr Lee kembali berulah. Ah sudahlah, lupakan Mr. Lee aku akan fokus menulis dan segera move on dari sana.

***
“Jika aku penulis terkenal maka aku....” tulis ku di kolom pesan di WA Grup Kelas Menulis Perpustakaan. ku beri efek bold pada kata jika dan maka. dengan bermain kata jika-maka aku Berinisiatif membuka sesi hiburan karena stack atau block writers gak ada ide yang masuk.

“Jika aku penulis terkenal maka aku akan terkenal” ujang membalas umpan ku.
“Hahaha, ya iyalah. Jawaban lain dongg, yang kreatif” balasku
“Jika aku penulis terkenal maka aku akan membebaskan semua orang untuk membaca buku-buku ku, semuanya akan ku gratiskan. Hahha” balas Ujang
“hahaha. Gitu dong, seru. Siapa lagi nih?” balasku

Langit di luar mulai terlihat gelap, hitam. Lampu-lampu teras rumah sudah menyala sedari tadi. Sepulang dari Mesjid menunaikan Salat Isya berjama’ah, aku kembali membuka gawai. Ternyata umpanku sedang ramai diperbincangkan, jawaban mereka lucu-lucu. Ada juga yang serius dan terlalu logis sih.

“jika aku menjadi penulis terkenal, maka aku akan bangun, ah ini pasti mimpi” begitu pesan si logis itu. Berasal dari si Ridwan, dia mah emang begitu orangnya.

Iseng berlanjut, pikiran masih belum bisa menulis malam itu. Menjadi penulis pemula emang gitu kali ya, seringnya kehilangan ide, bingung mau nulis apa.

“kalau aku jomblo, maka aku……” tulisku lagi

 Jam segini rata-rata orang memang sedang beristirahat. Tak ayal, pesan iseng itu banyak yang menanggapi. Mungkin mereka juga sedang senggang ya. Apa jangan-jangan, sama sama sedang kehilangan ide. Block Writer. Hahha

Diantara serangkaian jawaban lucu seperti ujang, dan jawaban logis seperti si Ridwan. Ada satu jawaban yang bikin aku merenung.

“kalau aku jomblo, maka akan ku jaga kejombloan ini dengan kesucian, sampai suatu saat nanti Allah mengizinkan aku melayani Imam untuk ku, teladan bagi anak-anak aku”

Jlebbbb!

“Pesan siapa itu?” lirihku “apakah jodoh datang lebih cepat?” tiba-tiba aku melamun.

Bila nanti saatnya t’lah tiba
Ku ingin kau menjadi istriku
Berjalan bersama ku dalam terik dan hujan
Berlarian kesana kemari dan tertawa

Imajinasi melukiskan aku sedang berlari-lari mesra dengan seorang perempuan, dia memakai kerudung merah, kulitnya putih, dan ia tersenyum kepadaku.

Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email