Penjahit - Episode 1

Devin Edwards



Kuantitas VS Kualitas

“Kerjanya jangan lelet gitu dong! Targetnya belum sampe nih!” teriak Mr Lee sambil menyodorkan telunjuknya ke wajah seorang perempuan di hadapannya yang sedang memeriksa potongan kain yang sudah di jahit bagian badannya. Kulit putih Mr Lee menjadi merah, dengan matanya yang menyala jelas terlihat kalau ia sedang marah. Mr Lee memang akan selalu begitu, kapan pun selama kamu masih jadi bawahannya ya perangai kasar akan selalu ia tontonkan, sangat arogan.

“Iya Pak, Maaf” jawab singkat perempuan itu. Padahal mungkin hatinya sedang sedih dan risih, ingin sekali membalas kelakukan semena-mena Mr Lee kepada dirinya.


 Si perempuan sebetulnya beruntung karena cuman dibilang Lelet. biasanya Mr Lee mengerluarkan beraneka macam ‘bahasa binatang’ dari mulutnya itu. Lagi-lagi dengan dalil target, satu Line menjadi seperti kebun binatang. Gila gak?

ia tak berani memandang atau menyanggah amarah Mr Lee. karena sudah terbiasa dipelakukan seperti itu, ia terima begitu saja walaupu jelas merasa bahwa dirinya tak salah. 

Setelah basa-basi meminta maaf, Dengan santai ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Mengechek satu persatu celana yang sudah proses assembling menandai dengan sticker panah kalau ada yang reject. Atau mengembalikannya ke bagian assembling kalau ada yang masih perlu diperbaiki.

Para pekerja lain yang kebanyakan perempuan di Line 30 hanya bisa menunduk, mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Tak jarang, orang-orang QC yang sebetulnya diam sedang menunggu barang datang untuk dia Chek, ‘berakting’ seolah dia sedang kerja. Apa saja ia kerjakan, celana yang sudah di cheking saja bisa bulak-balik ia chek supaya tetap terlihat kerja. Saking enggak mau kelihatan diam sama Mr Lee, nanti di marahi Mr Lee.

Aku berada sekira 5 meter dari posisi Mr Lee, hanya bisa melihatnya. seraya terus menjahit bagian badan depan dengan mesin jahit benang 1 bernama Juki. Ingin nya sih aku sumpal itu mulut kebun binatang itu pakai kain. Biar dia tidak bisa se enaknya kalau ngomong. Tapi nanti deh, jangan sekarang. Siapa tahu dia segera insaf.

Bekerja di sini segalanya serba menjadi tuntutan. Out put harus banyak, dengan kualitas yang harus bagus. Sering jadi serba salah. Pegawai lebih fokus mengerjakan pekerjaan bisa menjadi kesalahan ketika out put nya menjadi sedikit. Dan pekerja dengan out put yang banyak juga bisa menjadi bersalah karena kualitas jahitannya kurang bagus. Pokoknya serba salah! Selalu ada aja alasan Mr Lee mengeluarkan bahasa ‘binatang’nya

Oh ya. Kalian ada yang pernah pakai celana jeans merek Wranglerado? Celana jeans merek dagang dari Negeri paman Sam sana? Kalau pernah, nah mungkin celana yang pernah kalian pakai itu, badan belakangnya aku yang jahit. Secara gitu loh hanya ada 1 Pabrik garmen di Indonesia yang mempunyai lisensi langsung dari Amerika untuk memproduksi celana jeans di Indonesia secara massal. Dan lagi, di celana itu juga, terdapat kenangan bersama Mr Lee dan sikap tempramentalnya loh. hehehe

 Menjadi pegawai garmen memang bukan pekerjaan yang aku inginkan sedari dulu, tapi mau bagaimana lagi? Zaman sekarang laki-laki susah cari kerja, kalau pun ada, tak jarang harus ada uang ‘administrasi’ dulu. Kan aneh ya. Orang mau kerja, nantinya bakal di bayar karena kerja. kok harus bayar dulu.
Selama yang kulakukan ini halal. Masih bisa melakukannya. Sambil menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan selain garmen yang berbaik hati mempekerjakan aku. 

Sejak lulus S1 Akuntansi di Universitas Terbuka 1 Tahun lalu, sudah ratusan lamaran aku kirimkan ke berbagai perusahaan, yang dekat maupun yang jauh. Lewat email, lewat pos atau langsung datang ke gerbang mereka. Semua sudah aku lakukan, aku tinggal menunggu panggilan saja. Menjadi PNS di BUMN atau di Instansi Pemerintahan juga pernah ku ikuti. Membuka usaha sendiri pun sudah, dan belum bisa menghasilkan. Yang ada selalu saja nombok. Ah! Aku mungkin belum beruntung saja. atau Mungkin Allah ingin aku lebih banyak belajar dulu. Aku coba berhusnudzon.

Alasan yang membuat aku ingin pindah kerja dari perusahaan ini adalah pertama, aku ingin keluar dari zona kebun binatang. Ke dua, aku ingin menikah. Di usia ku yang sudah 27 ini aku berpikir sudah saatnya aku mendapatkan uang yang lebih banyak untuk mempercepat proses pencarian perempuanku. Bukan apa-apa, segalanya sekarang serba butuh uang bukan? Sampai mengurus nikah pun pastinya membutuhkan biaya yang cukup besar. Ke tiga, aku butuh tempat tinggal, Rumah. Enggak mau terus-terusan serumah sama orang tua. Ke empat, aku ini kan sudah Sarjana. Sayang kalau ijazah nya tidak terpakai. Alasan lainnya sebetulnya banyak, tapi ke empat alasan tadi cukup mewakili alasan-alasan yang lain sih.

***
 Ngeeeeeaaaaaaaaanngggggggngggeeeeeeaaaaang
   Ngeeeeeaaaaaaaaanngggggggngggeeeeeeaaaaang

 Sirine tanda pekerjaan selesai berbunyi. Suaranya seperti pertanda masuknya waktu berbuka puasa. Aku bergegas meninggalkan si Juki, kumatikan dia, merapikan potongan-potongan kain yang belum dijahit yang berada tepat disamping nya si Juki. Sejurus kemudian aku bergegas menuju kamar kecil di sudut ruang.
Ada waktu 3 menit untuk membersihkan diri sebelum sirine pulang berbunyi. Bersama pekerja lainnya aku membersihkan tangan yang membiru karena kanji* kain. Ku buka masker dan ku basuh wajah dengan air yang mengalir. “Ah Segarnya” ucapku sambil kembali membasuhkan air ke wajah.

Ngeeeeeaaaaaaaaanngggggggngggeeeeeeaaaaang
 Ngeeeeeaaaaaaaaanngggggggngggeeeeeeaaaaang
Akhirnya sirine tanda pulang berbunyi juga. Para pekerja wanita berlari menuju gerbang mendominasi. dengan jumlahnya yang bisa mencapai 100 orang lebih, suara hentakkan kaki mereka terasa seperti mau gempa saja loh.

Berbeda dengan Yang laki-laki, mereka itu lebih santai.

“Mau sampai kapan kita kayak gini?” ucapku ke Yuda sambil menyimpan tangan di pundaknya, kita berjalan sejajar. Yuda adalah teman sesama penjahit laki-laki di Line 30 hanya ada aku dan Yuda yang laki-laki.

“Ah, mau bagaimana lagi, karena butuh kan” jawab Yuda singkat. Sepertinya Yuda mulai bosan setiap pulang kutanya seperti itu.

Pertanyaan itu pun balik kutanyakan kepada hati dan diri ini.”Mau sampai kapan kamu kerja seperti ini? Sampai kapan terus-terusan bersandiwara?” keduanya acuh tak menjawab.

"Semoga kelas menulis besok bisa membuatku mendapatkan mimpi baru" ucapku lirih. berjalan perlahan meninggalkan gedung.


Bersambung >>>
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email