Perempuan Suci Penunggu Air Terjun (Part II)

13 komentar

Hai kawans. terima kasih sudah membaca isi blog gue.

 Seperi part sebelumnya, Tulisan ini adalah cerita yang di remake dari mitos Curug Caweni yang terkenal di daerah Jampang-Sukabumi Jawa Barat. Curug Caweni merupakan curug (air terjun) indah yang di curug itu ada batu berbentuk sesosok perempuan tepat di aliran airnya. Singkatnya, batu itu merupakan jelmaan janda suci yang berubah menjadi batu karena saking lama menunggu suaminya pulang. Woow nunggu suami pulang doang bisa jadi batu ya? hehe.. for your information ya kawans. perempuan itu sebelumnya pernah menikah selama 99 kali, hampir semua suaminya mati sebelum malam pertama, kecuali suami yang terakhir itu. makanya itu Curug diberi nama Caweni yang kalau dalam bahasa Indonesia berarti janda yang masih suci. Lebih lengkap cerita aslinya, bisa di chek di 
https://wisatasia.com/unit/3702

….… 17 tahun kemudian …..

“Siti, punten, ambilkan kayu bakar yang di teras rumah ya, Ibu mau masak” ujar Bu Minah meminta tolong Siti.

“Oh iya Bu, sebentar, segera Siti bawakan, tunggu ya Bu” Jawab Siti dengan lembutnya .

Sejurus kemudian, Siti beranjak ke teras sesuai permintaan Ibunya. Dan berhasil mengangkat banyak kayu dengan selendang nya, lantas membawa kayu itu ke dapur seperti permintaan Ibu tercinta.

17 tahun berlalu, bayi kecil nan lucu itu kini tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik, berakhlak baik, dan tak pernah sekali pun Siti membantah perintah atau  menolak permintaan kedua Orang tuanya.

Bu ini kayunya, Ibu mau masak apakah? Boleh Siti bantu?tanya Siti.

Siti melepaskan selendang di pangkuannya, lalu menyodorkan kayu itu secara perlahan ke Ibunya. Sambil senyum dan hati-hati, dipindahkan lah kayu yang ia bawa ke Ibunya.

Yang dilakukan Siti merupakan suatu adab yang tinggi dari anak untuk orang tua, khususnya seorang Ibu. Lemah lembut kepada orang tua, berhati-hati, dan tidak menyakiti.

Oh iya boleh nak, sebentar lagi kan Bapakmu pulang, kita masak ikan untuk Bapakmu ya” jawab Bu Minah.

Gumpalan asap keluar dari bilik rumah Bu Minah. Tanda bahwa rumah itu sedang memasak sesuatu. Kini Siti kecil sudah beranjak dewasa, sudah mengerti hakikatnya sebagai perempuan itu seperti apa.

Banyak waktu ia habiskan di rumah dengan membantu Bu Minah, Ibu tercinta. Sesekali di ajak Pak Abdul jalan-jalan mengelilingi dusun, naik turun bukit, bermain di curug dan memancing ikan di sungai.

Assalamu’alaikum ..” Terdengar sahutan salam di balik pintu

Wa’alaikumussalam, tunggu sebentar ya” balas Bu Minah.

“Nak, sepertinya ada tamu di depan. lanjutkan goreng ikannya ya, hati-hati jangan sampai gosong” pinta Bu Minah “Ibu akan ke depan melihatnya”

Beres Bu, goreng ikan doang mah kecil, pokoknya serahkan ke Siti” ujar Siti sambil membuka senyum.

Bu Minah beranjak dari dapur. Sambil merapikan samping sarung dan kerudung yang dipakainya, Bu Minah berjalan menuju pintu untuk menemui tamu.

“Sebentar” sambil membuka pintu
“Eh ternyata Bapak, hayuk masuk Pak, ibu kira siapa, itu Ibu sama Siti sudah masakin ikan buat kita makan” ajak Bu Minah kepada tamu yang ternyata adalah Pak Abdul, suaminya.

“Ayo dimakan Pak, ini Siti yang buat loh” bujuk Bu Minah.

“Waah….” Wajah Pak Abdul tersenyum senang, “senangnya Bapak, pulang mengembara sudah disiapkan makanan sama Siti, makasih ya Nak, Bapak sayang Siti”

Sama-sama Pak, Siti juga Sayang Bapak ucap Siti.

“Ya sudah, ayo kita berdoa sebelum makan ya” ajak Pak Abdul memberi teladan

Bismillahirrohmanirrohim, Allohumma bariklana fii maa rozaktana wakina adza bannar

Bu Minah, Pak Abdul dan Siti makan perlahan dengan lahap. Dimulai dari memakan makanan yang ada di pinggir piring, lanjut ke tengah. Semua yang disediakan di atas piring, habis tidak tersisa. Karena kalau tersisa bisa mubazir dan jadi dosa.

***

Langit di Cidolog cerah seperti biasanya, burung-burung bernyanyi, pohon saling melambaikan rantingnya. Beberapa awan berjalan malu-malu karena dilihat matahari. Pagi itu keluarga Pak Abdul kedatangan tamu tak terduga.

Assalamu’alaikum..” sahut seorang pria bertubuh dewasa, di belakangnya ada pemuda yang sebaya dengan Siti.

Bersambung...
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

13 komentar

  1. Masyaa Allah, tulisan selesai di bagian yang mulai memicu rasa penasaran nih, keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau beneran penasaran. Hehe.

      Insya Allah nanti bakal di Bukukan bersama temen-temen Sukabumi lainnya. Hehe

      Hapus
    2. Minta do'a, kritik saran dan dukungannya ya Teh. Hehe

      Hapus
    3. Waah beruntung bisa baca duluan, hehe.


      Insya Allah, semoga Allah mudahkan Kang Ninja dan kawan-kawan. Aamiin.

      Hapus
    4. Istajib du'ana ya Mujibassailin aamiiin.

      Haturnuhun teteh. Jazakillah khoir

      Hapus
  2. Hehe aku komen pke fb pantesan jd gk bisa😅

    Kren ih kg azwar udah setengah jalan..
    Semangat kang, nice critanya😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Teh. Kuuuy lah kita ramaikan Khasanah. Hehe

      Hapus
  3. Semangat kak nulisnya😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe,. Iya Kakak yang dari Makassar, terima kasih sudha mampir ya..

      Hapus
  4. Belum bisa move on dari tantangan kemarin ini ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belooooom. hehehe.
      dan qodorulloh, ada tantangan dari kelas sebelah. nantingin gue buat ngeremake juga. hehe yaudah gue Ladenin Bu. hehe

      Hapus
  5. Weh keren kak, jd pwngen ngelanjutin tantangan kemarin nih hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. kuylah kita ngeremake semua mitos menjadi hikmah,. hehe

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email