Tantangan Belum Usai

9 komentar


“Sayang….” panggil istriku sedikit teriak. arahnya sih dari belakang, lantas derap langkahnya mulai terdengar mendekat. “Istirahat dahulu lah sayang… sepertinya kamu kelelahan, jangan lah dipaksakan” ucap Istriku sambil membawa pelukan, datangnya dari belakang. pelukan itu mendarat persis dipunggungku. diangkat tangan lembutnya itu ke ubun-ubun, rambutku di acak-acak. dia sedang menggoda. 

“Tapi kan kalau enggak nulis sekarang, aku gak bisa lulus yang. kan sayang udah sejauh ini” seruku. Aku balik badan, lantas ku tatap bola matanya.

Netra kami berpapasan, berbicara satu-sama lain, merangkai dialog rindu.
“Ah, jarang sekali aku bisa melihat kamu dari dekat”
“Iya yah, ternyata kamu belekan”
“Eh kok? Masa sih? Kamu tuh, ada ingusnya”
“Rindu deh sama kamu”
“Hehe. Iya sama, aku juga”


“Yasudah sayang, sepertinya memang aku sudah lelah…kita jalan-jalan keluar yuk, cari angin” ucapku melerai obrolan netra, mengajak Istri jalan-jalan.

“Iya hayu sayang, udah lama juga nih kita gak jalan-jalan, semenjak kapan ya….” dia mikir sejenak, “semenjak tanggal di kalender berubah jadi tua sayang. Hehe” seruku coba menjawab, biar dia gak mikir lama.

“Ah iya juga ya… sekarang kan yang tua itu udah pergi sayang, datang yang muda nih” Istriku mulai menggoda, “ah kamu tahu aja, udah yuk jalan, ini pake jaketnya ya, jangan sampai kamu kedinginan” dia gak sadar aku sudah pegang jaket, terus dikasih ke dia.

“Eh Iya sayang. Makasih ya” ucapnya sambil tersenyum

Tantangan komunitas menulis kali ini memang cukup menantang, entah karena kebetulan aku sedang sibuk-sibuknya kerja, entah karena memang aku sedang kesulitan menulis cerita, atau jangan-jangan pikiranku sedang dipenuhi hal lain. pengen jalan-jalan ke Sapporo misalnya. Terus jualan gado-gado di sana. Ah entah lah.

“Hey… Konichiwa, This is Gado-gado from Indonesia, Very Very Delicious” sesaat pikiranku berimajinasi. Ngomong-ngomong, kayak nya kalau jualan gado-gado di Jepang seru juga ya. Nanti jualan es Lilin sekalian, atau sekoteng, bajigur juga enak sih. Aku jamin, orang jepang pasti suka. Setidaknya mereka pasti nyoba karena aneh atau unik. Hehehe

Breeeem.. suara kuda besi itu memecah keheningan malam. Depan kontrakan jam 21.00 memang sudah sepi sih, kebetulan Bu Kontrakan sedang tidak melamun sambil ngopi dan ngudud di depan kontrakan. Entah sedang memikirkan apa.

“Pegangan ya sayang” pintaku
“Iya Sayang” jawabnya

Pulsar 200 DTS-I, melaju dengan kecepatan 20km/jam, melintasi aspal mulus jalan protokol Sukabumi-Bogor. Sepanjang jalan mataku berpatroli, mencari makanan atau minuman. beberapa gerombolan angin ingin ikut menumpang, coba masuk ke jaket lewat sela baju yang bolong dibagian tangan. Tapi nggak dingin sih, kan ada yang meluk dari belakang. Jadi hangat.
Kulihat istri, matanya juga ternyata sedang berpatroli. Bedanya kalau istri cari tempat yang punya makanan atau minuman yang enak dan nyaman untuk berdua. Sedangkan aku, mataku berpatroli mencari makanan atau minuman yang murah. Itu aja sih, simpel. Hehe

Beberapa menit jalan, Akhirnya istriku bersuara.
“sayang ke situ yuk” ucap dia sambil menunjuk ke arah Cafe sebrang jalan.
“Iyah hayuk sayang, kita nyebrang ya….” Braaaaak!!! tiba-tiba pemandangan yang kutangkap di layar netra menjadi buram.

“Sayang…., Sayaaang, bangun sayang….” dia memanggilku.

Perlahan aku terbangun. Melihat sekitar masih sama saja, layar komputer masih berwarna putih, belum ada teks pun yang aku tuliskan.

“Udah bangun yang? Katanya mau ngerjain tugas ODOP, kok malah tidur”


======================================
Sekian, gue Ibrahim Dutinov
Gue Penulis. Bukan Teroris
======================================
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

9 komentar

Posting Komentar

Follow by Email