2020 untuk Kita (Surat untuk Istri tercinta)

2 komentar
Sumber : google


Ummah Khaulah

Sebetulnya, bukan karena ada tahun baru. Tapi karena ini momentumnya, Izinkan aku menulis beberapa pesan untuk kita obrolkan ya. Bersama dengan gelombang harmoni rumah tangga yang sedang bergerak mengikuti alur-Nya. Surat ini pun mulai ku tulis untukmu Istri tecinta.

Ummah Khaulah

Selayaknya imam yang mengajak kebaikan. Aku ingin kita bisa ta’at  dalam menjalankan ibadah wajib, juga tidak mudah menyia-nyiakan ibadah sunnah tentunya. lebih ta'at dari sebelumnya. Aku ingin kita bisa membudidayakan rasa ingin saling mengoreksi dan menasihati dalam kebaikan, lebih sering dari sebelumnya.



Seperti para penikmat hikmah, aku ingin kita bisa menghargai dan menikmati waktu bersama dalam setiap kesempatan dan kesempitan yang lebih dari sebelumnya yang pernah kita lakukan.
Kita bisa banyak diskusi lebih sering ya... kan banyak hal yang perlu kita tukar dalam hidup kita.




Pada momen ini aku ingin bisa mengajakmu jalan ke luar kota. Bukan Bogor atau DKI Jakarta. Tapi luar kota selain dua itu. Yogyakarta misalnya, atau Mekkah Al Mukarromah. hehe. Seringnya, ketika tinggal di kontrakan kita jadi lupa gimana rasanya tinggal di rumah sendiri. tanpa ada bayang-bayang iuran bulanan. hehe. 

Pastinya aku ingin mendapatkan penghasilan yang lebih dari sebelumnya. Lebih banyak, lebih berkah dan tentunya lebih bermanfaat.

Pastinya aku juga ingin membuat kamu bahagia, lebih dari sebelumnya. Khaulah juga
Pastinya aku juga ingin membahagiakan orang tua kita, mengajak mereka berlibur bersama misalnya
Lalu aku ingin membeli kendaraan baru yang lebih aman dan nyaman
Setelahnya, kita beli tempat tinggal. Bukan menyewanya. Bukan kontrakan



Banyak lagi keiniginan, yang semoga dengan bertambahnya keta’atan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berkuranglah keinginan-keinginan kita pada list yang aku sebut itu. Karena sudah terlaksana. Selebihnya, kita harus yakin bahwa Allah Maha segalanya.

Allah Maha tahu apa yang kita lakukan, sampai-sampai daun jatuh pun tak ada yang tidak diketahui-Nya. Maka kita mengimani itu

Allah Maha pemberi rezeki, karena kita tahu rezeki itu jelas beda dengan gaji atau penghasilan, banyak yang bergelimang harta tapi sepi hatinya. Banyak yang bergelimang bahagia, meski hartanya tak ada.

Kita hanya bisa berupaya dan berdo'a, Allah yang mengabulkannya.

Istajib Du’ana ya Mujibassailin. Aaamiin.
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

There is no other posts in this category.

2 komentar

Posting Komentar

Follow by Email