Nasihat Pernikahan : Sebelum "Lamaran Sesudah Lebaran" Yuk Kita Kenali Makna Cinta, Pernikahan dan Kebahagiaan

1 komentar

Gue perhatikan di beranda media sosial, selain ramai temen-temen yang ngomongin gagal liburan karena PSBB, ramai ngomongin rencana hidup, ngomongin makanan, jualan, segudang aktivitas yang terpaksa harus dilakukan di rumah saja. Garis waktu media sosial juga mulai ramai didatangi orang-orang yang melaksanakan lamaran sehabis lebaran. maksudnya ada dua, lamaran kerja iya, lamaran menuju jenjang pernikahan juga iya. (Cie cie, ini pasti kamu deh salah satunya).

Apapun aktivitas temen-temen di media sosial atau di kehidupan nyata. Pokoknya gue do'akan semuanya baik-baik saja ya, Semoga Allah melancarkan segala urusan temen-temen, dan semoga temen-temen tetap kuat menghadapi ujian hidup. Yang kalau gue perhatikan, makin kesini itu ujian hidup makin pelik aja. Ganbatte Kudasai pokoknya. Eh ya, kalau memang masalah temen-temen itu pelik, coba selesaikan pelikmu dengan peluk ya, peluk ilmu maksudnya. Ikat dia, pepet terus jangan kasi kendor.

Bicara lamaran menuju jenjang pernikahan, nggak enak dong kalau misalkan kita enggak ngomongin persiapan. Masa iya nikahnya dadakan. Kamu kira nikah kek tahu bulat. Hahaha. Selanjutnya, tulisan gue kali ini, gue bakal coba bahas tema yang agak bucin ya. kita akan sedikit panjang lebar ngomongin makna cinta, makna pernikahan dan tentunya makna sebuah kebahagiaan.

Sebelum lanjut, boleh dong gue ingetin Ada baiknya temen-temen, pembaca budiman untuk menyiapkan camilan dan minuman ringannya. Untuk  apa? Untuk apa cinta tanpa pengorbanan? Eh. Bukan. Maksud gue untuk apa camilam dan minuman itu? Ya, minimal pas temen-temen yang merupakan pembaca budiman membaca postingan ini, warung tetangga deket rumah temen-temen juga kebagian rezekinya.

Terus lagi, temen-temen yang belum menunaikan kewajiban, tunaikan dulu kewajibannya ya. Andai kata temen-temen baca pas waktu dzuhur, shalat shalat dzuhur dulu deh. Andai kata temen-temen pembaca budiman ini baca pas punya hutang, lunasi dulu deh hutang nya ya. Okeee? Kalau sudah. Yuk kita mulai tentang makna cinta


Temen-temen sudah tahu apa itu artinya cinta?, Apa itu artinya pernikahan?, Dan apa itu artinya bahagia? Bucin deh hahaha. Nggak papa, mumpung bucin mode-on, yang spesial adalah kali ini gue bakal coba bahas ketiga makna itu berdasarkan apa yang ditulis oleh Ustadz Cahyadi Takariyawan dalam Buku Wonderful Marriage. Merupakan seri buku yang berisi seputar tentang pernikahan, suami-istri.

Makna cinta itu ceritanya begini...

Suatu hari Plato bertanya kepada gurunya, Socrates, tentang makna cinta.

Socrates : "Pergilah ke ladang, petik dan bawalah setangkai gandum yang paling besar dan paling baik, ingat satu hal, kamu hanya boleh berjalan satu arah, setelah kamu lewati, kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali."

Plato melakukan apa yang diminta gurunya tetapi dia kembali dengan tangan kosong. 

Socrates     : "Kenapa engkau kembali dengan tangan kosong?"
Plato       : "Aku melihat beberapa gandum yang besar dan baik saat melewati ladang, tetapi aku berpikir mungkin ada yang lebih besar dan lebih baik dari yang ini, jadi aku melewatinya saja, ternyata aku salah, aku tidak menemukan yang lebih baik dari yang aku temukan di awal, akhirnya aku tidak membawa satupun"
Socrates  : "Itulah cinta"

Nah temen-temen sekalian, kira-kira Apa makna yang tersirat dari dialog tersebut? 

Dari buku Wonederful Marriage, gue dapet jawabannya. Ustadz Cahyadi Takariawan (biasa disebut Pak Cah) yang sudah berpengalaman dalam menangani masalah pernikahan bilang begini :

Sahabat muda, cinta itu terus mencari yang terbaik, dan ternyata tidak ada yang terbaik. Manusia terus berjalan mencari cinta, dia selalu menghendaki sesuatu yang lebih hingga akhirnya mendapatkan kehampaan. Manusia selalu membandingkan, selalu merasa tidak puas dan selalu dilanda kegelisahan. Mereka terus mencari namun tidak mendapatkan mendapatkan, karena menghendaki yang lebih dari apa yang ada.

Dan gue nangkepnya...

Jangan maruk, jangan ngarau ku siku (red : jangan serakah) dalam mencari pasangan, jangan nyari yang enaknya aja, jangan berharap ada yang sempurna, jangan nyari yang enggak ada aibnya, jangan ini jangan itu dan jangan-jangan kita enggak sadar kalau kita sendiri bukan siapa-siapa. Hehe begitu kali ya. Soalnya, kalau kita berharap kesempurnaan kepada cinta, kemungkinan besar enggak akan sama sekali kita bisa mendapatkannya. enggak bakalan ketemu! enggak bakalan puas. Yang ada hampa, yang ada capek sendiri dikejar nafsu.

Solusinya bagaimana dong?

Bikin cinta kita itu lillahi taála. Maka kita akan menemukan jawabannya. Mencintai seseorang karena orang itu kaya, karena orang itu cantik, tampan, berkedudukan, punya popularitas sebenarnya sih sah-sah saja ya. Namun jika tujuan cinta karena itu doang kayaknya cinta nggak akan hadir deh, enggak akan hidup lantas menunjukkan keindahannya. Dan cinta yang seperti itu mungkin nanti ujungnya akan membawa kita kepada kekecewaan. akan membawa kita kepada kesengsaraan. Sedih yang tak berujung. atau dihinakan kayak ceritanya Hayati sama Aziz di Padang. hehe.


Pada hari yang lain Plato bertanya kepada Socrates tentang makna pernikahan

Socrates    : "Pergilah ke hutan, potong dan bawalah pohon yang paling tebal dan yang paling kuat, tapi ingat satu hal, setelah kamu lewati, kamu tidak boleh kembali, dan kesempatanmu hanya sekali."

Plato pergi melakukan apa yang diminta gurunya tapi dia tidak membawa potongan pohon yang tebal dan kuat, dia hanya membawa pohon yang bagus.

Socrates   : "Mengapa engkau membawa pohon yang itu?
Plato        : "Aku melihat beberapa pohon yang bagus dalam perjalanan di hutan, tapi kali ini aku belajar dari kasus gandum, jadi aku memilih pohon ini, karena jika tidak aku takut kembali dengan tangan kosong lagi, Kurasa inilah pohon terbaik."
Socrates        : "Itulah makna pernikahan"

Apa makna yang tersirat dari dialog tersebut?

Lagi, jawaban itu kudapatkan dari Pak Cah. Beliau bilang :
Sahabat muda, menikah adalah bab mengambil keputusan. Setelah engkau melakukan proses pencarian. Tidak ada manusia sempurna, selalu ada kekurangannya. Jika engkau melihat gadis cantik, di tempat lain juga ada gadis yang lebih cantik. Jika engkau tertarik dengan pemuda tampan, di tempat lain juga ada pemuda yang lebih tampan.  Engkau hanya memerlukan seseorang yang akan memahamimu, mengerti dirimu, bisa menerima kondisimu dalam suka dan duka, serta melewati hidup bersama dalam segala keadaannya. Engkau tidak menemukan seseorang yang sempurna untuk menjadi suami atau istrimu karena memang tidak ada lelaki yang sempurna, tidak ada perempuan yang sempurna.
Siapapun yang kamu pilih untuk jadi pendamping sehidup sesurga, dia pasti punya minus. Punya kekurangan. Sama kayak kamu, kamu juga pasti punya banyak minus bukan? Wkwkw. Makannya jangan pernah kita berharap kesempurnaan kepada manusia. Karena berharap kepada manusia itu pahit. 
"Aku sudah merasakan kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia." Sayyidina Ali BIn Abi Thalib Karomallohu Wajhah
Jadi, sudah sepantasnya kita memilih pasangan hidup itu karena Allah, mencitainya karena Allah, yang bisa menemanimu karena Allah dan bisa membahagiakanmu karena Allah. 


Pada kesempatan yang lain Plato kembali bertanya kepada Socrates. kali ini pertanyaannya tentang apa itu makna kebahagiaan.

Socrates        : "Pergilah melewati taman, petiklah bunga yang paling cantik, tapi ingat satu hal, setelah kamu lewati, kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali."

Seperti biasa tanpa berpikir panjang, Plato pergi melakukan apa yang diminta gurunya. lalu kembali dengan membawa bunga yang cukup cantik.

Socrates     : "Apakah ini bunga yang paling cantik?"
Plato           : "Aku melihat bunga ini, lalu memetiknya, dan meyakini bahwa ini adalah bunga yang paling cantik, dalam perjalanan di taman aku melihat sangat banyak bunga yang cantik, namun aku tetap yakin bunga yang aku petik adalah yang paling cantik. Dan akupun membawanya kemari"
Socrates      : "Itulah kebahagiaan"

Apa makna yang tersirat dari dialog tersebut?

Lagi dan lagi, jawabannya kutemukan dari Penulis buku Wonderfull Marriage. Pak Cah bilang  :

Sahabat muda, engkau merasa bahagia karena engkau puas dengan apa yang engkau miliki. Engkau tidak mengharap-harap apa yang tidak engkau miliki. Engkau bersyukur memiliki pasangan hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Engkau menikmati hidup bersama pasanganmu, belahan jiwamu dan kekasih hatimu. Bahagia itu letaknya ada di dalam jiwa yang selalu bersyukur, hati yang bersih, juga pikiran yang jernih.

Bahagia itu ada dalam ketaatan kepada Allah, kecintaan kepada segala ketetapan-Nya, dan ridha dengan karunia-Nya. Jika engkau tidak pernah merasa puas dengan apa yang engkau miliki, maka secantik apapun istrimu dan setapan apapun suamimu. Engkau tidak akan pernah bahagia. Engkau tetap merana dan merasa hampa. Engkau merasa Kebahagiaan adalah milik orang lain. Sekan engkau tidak pernah memilikinya.

Engkau iri dengan orang lain yang istrinya lebih cantik dari istrimu, suaminya lebih tampan dari suamimu, ekonominya lebih mapan dari ekonomimu, dan yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukanmu. Bagaimana engkau akan bisa mendapatkan kebahagiaan jika engkau selalu bersikap seperti itu.

Jleeeb... Merasa ketusuk? hiks Sama kok Jleb jleb jleb.

Buat temen-temen yang masih ragu, masih bimbang masih galau, merasa umur sudah tua, temen seperjuangan udah pada nikah, lantas sedih karena kita belum juga menikah. Keep Calm ya. Gue insya Allah ngerti banget perasaan temen-temen yang belum nikah. Soalnya, dulu gue juga begitu kok. Saat galau melanda seringnya diri merasa hina, merana dan teraniaya. Hahaha

Apalagi soal memutuskan untuk segera berkeluarga. Gue denger katanya berkeluarga itu sulit, enggak semudah dan sebahagia kayak yang ditulis di novel-novel cinta. Katanya jangan hanya karena kita udah pengen nikah terus kita buru-buru ngambil keputusan. Ujungnya apa? rumah tangga jadi berantakan karena tidak siap dengan permasalahan yang dialamisetelah menikah.

Tapi tunggu dulu.... ada juga kok yang bilang kalau itu nggak sulit sulit. Dan bilang, justru yang sulit itu gengsinya, takutnya. Kalau udah dijalani, Ya begitu... enak, hangat, adem, sejuk, tentram. Sampai ada kan orang yang sampe nyesel. Katanya kenapa enggak dari dulu gue nikkah. Nikah itu enak. Ada yang masakin, ada yang nafkahin, kalau sakit ada yang ngerawat, megang tangannya ibadah, menatp matanya penuh rasa suka juga jadi ibadah. Pokoknya golongan ini bilang kalau nikah itu ibadah paling lama.

Gue setuju sih.. Karena gue udah nikah. dah tahu suka dukanya nikah itu kaya gimana. Ya walaupun baru seumur jagung sih. Hehe, do'akan gue sama keluarga kecil gue ya. Masalah sih selalu ada, tapi semoga gue sama keluarga selalu dikuatkan tekad dan diberi kelancaran dalam mengarunginya. Aamiiin.

Untuk penutup Kayaknya gue bakal motif lagi kata-katanya pak Cah deh. Asli! Ustadz Cahyadi Takariawan itu lebih berpengalaman daripada gue. soal pernikahan apalagi. Sebelum menikah,  Sebenernya gue juga baca baca buku beliau sih. temen-temen yang pengen baca juga, ada nih. Bolehlah dipinjam. Beli ke toko buku lebih bagus. Eh iya, back to the topic...Pak Cah bilang gini

Sahabat muda, sesungguhnya yang paling utama (sebelum perbikahan) adalah menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menuju gerbang pernikahan. Jangan takut menikah namun juga jangan menggampangkan menikah tanpa persiapan. Pernikahan itu berdampak dunia dan akhirat. Surga dan neraka sangat ditentukan oleh ketepatan memilih pasangan hidup dan menjalani bahtera rumah tangga. Maka jangan sembarangan memilih calon pendamping hidup namun juga jangan berlebihan dalam kekhawatiran.

Yang sangat diperlukan dalam menyiapkan diri menuju Gerbang pernikahan Suci agar pernikahan kamu benar-benar Sakinah mawaddah warrohmah, maka kamu perlu kebaikan proses dan 'prosedur' dalam seluruh langkahnya.

Untuk mewujudkan wonderful marriage, paling tidak kamu harus melalui lima langkah berikut ini :

1. Meminang atau mengkhitbah;
2. Merencanakan teknis pernikahan;
3. Pelaksanaan akad nikah;
4..Pelaksanaan walimah atau pesta pernikahan;
5. Hari-hari indah setelah menikah

Jangan banyak menuntut hak, berburulah menunaikan kewajiban. Karena cinta itu artinya mwmberi, bukan menuntut diberi.

Sekian, gue Ibrahim Dutinov.
Gue Penulis, bukan teroris.


Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar

Follow by Email