[Review Novel] Merindu Baginda Nabi, Karya Habiburrahman El Shirazy

4 komentar
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

Apakah temen-temen termasuk orang yang sedang atau sering merindukan Baginda Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi Wassalam (SAW)? 

Apa yang sudah temen-temen lakukan untuk mengobati rindu tersebut? Bersholawat kepadanya? Menyampaikan risalahnya? Atau cara lain yang temen-temen sudah lakukan sendiri. 

Apapun itu semoga suatu saat, kelak kita bisa sama-sama disatukan dalam barisan orang yang mencintai dan merindukan Baginda Rasulullah Shollalohu 'alaihi Wassalam (SAW) Aamiiin

Sesuai judulnya, lewat tokoh Pak Nur, kita akan  disajikan cerita tentang bagaimana cara beliau merindukan Baginda Nabi Sollallohu 'alaihi wassalam, mengikuti dan mengamalkannya. Sifat serta sikap tokoh Pak Nur patut kita jadikan teladan, lantas kita amalkan dalam keseharian kehidupan kita. Mangkannya gue bilang, temen-temen yang sedang atau sering merindukan Baginda Nabi, sangat enggak ada salahnya untuk membaca novel ini. Gue yakin se yakin-yakinnya, kalau temen-temen baca dengan seksama, masa iya jiwa temen-temen enggak terbangun untuk meneladani Baginda. Walaupun soal istiqomah itu beda bab lagi ya

Kalau dilihat dari tokoh utamanya, gue sih mau bilang novel ini sangat cocok dibaca anak Sekolah. meski sebtulnya saya yang sudah tidak bersekolah pun. tetap mendapatkan pengalaman berharga setelah membacanya. Kenapa gue bilang begitu? Jadi mulai dari latarnya, alurnya, gaya bahasanya, plot serta banyak dari konflik yang disuguhkan, merupakan konflik yang terjadi di masa sekolah. Anak SMA. Beneran loh. Konfliknya sangat detail dan mendalam. Membuat kisah demi kisah yang bikin melted, ngena banget ke hati, kalau lagi sedih, bisa bikin nangis, kalau tokoh antagonisnya berulah, bisa bikin kesel dan jengkel. 

Kisah singkatnya begini....

Si tokoh utama ini merupakan anak perempuan yang ditemukan oleh Mbah Tantrem (nenek) di dekat tempat sampah sekitar kampung. Sempat diberi nama Dipah (di dekat sampah), nantinya anak tersebut akan menjadi anak angkat dari pasangan suami-istri yang sudah sekian lama tidak memiliki anak (Pak Nur dan Bu Sal). Dari orang tua baru itu, lalu namanya digenti menjadi Sarifah. Panggilannya Rifa. Anaknya sangat pintar, ramah, ilmunya luas. Pengalaman perjalanannya bisa ke Amerika sampai keliling Eropa berkat program pertukaran pelajar yang dia ikuti. Sangat enggak nyangka kan anak yang tadinya hanya anak "nemu" bisa jadi berprestasi kayak begitu. Eh tapi kang Abik bakal jelasin secara logis tuh kenapa bisa sampai begitu. Asli logis banget enggak kayak sinetron-sinetron tv nasional. 

Dalam perjalanannya, kita akan disuguhkan cerita tentang persahabatan, kehangatan hidup dalam keluarga, lingkungan pesantren sekaligus panti asuhan. Kita juga akan disuguhkan cerita tentang persaingan sengit antara Rifa dengan Arum si tokoh antagonis. Ada ilmu parenting, ilmu politik, psikologi, ilmu keuangan, hukum dan lainnya. Soalnya bukan novel karangan Kang Abik kalau tidak membekaskan ilmu dan pengalaman berharga untuk para pembacanya. Banyak banget ilmu yang bisa kita pelajari, banyak banget teladan yang bisa kita jadikan kiblat untuk sikap dan sifat kita. Amalan-amalan yang syar'i juga selalu diselipkan dalam setiap aktivitas si tokoh utama ataupun tokoh lainnya. Tokoh-tokoh lain juga gak sembarangan hadir tanpa ada ilmu yang bisa kita ambil darinya. Keren keren keren banget pokoknya.

Oh iya... Awal lihat tampilan dan judul novelnya. Sebetulnya gue nyangkanya ini adalah novel yang berisi tentang kisah seorang pemuda yang ikut kegiatan keagamaan di Yaman. Atau enggak, mungkin akan mengangkat golongan Habaib, Sayyid. Yang intinya berkisah tentang orang dewasa. Ternyata diluar ekspektasi, novelnya bercerita tentang anak sekolah, anak SMA, kayaknya bakal lebih menarik minat remaja kalau judulnya juga kek remaja, dan tampilan bukunya juga remaja friendly. Eh kok gue kayak yang paham cover gitu ya. Wkwkwkw.

Beberapa Kutipan yang gue suka dari Novel ini 

Abah ini cuma meniru Imam Syafii yang makan dengan lahap ketika bertemu ke rumah Imam Ahmad bin Hambal. Kata Imam Syafii, makanan yang dihidangkan orang saleh dari rezeki yang halal itu syifa', itu obat." begitu penjelasan abah 

Halaman 16

Pernah gak sih temen-temem maen-maen ke rumah kerabat, teman, handai tolan, atau mungkin berkunjung ke salah satu tokoh masyarakat. Kita disuguhi jamuan berupa makanan dan minuman eh kita segan buat ngambil itu makanan, malu yang ujungnya kita sama sekali enggak makan jamuan itu. Padahal kalau yang menyuguhkan adalah orang yang saleh dan kita tahu rezeki yang didapat adalah rezeki yang halal, ternyata hidangan itu adalah obat. Masya Allah.
Nur, hidup ini untuk berjuang.  Berjuang supaya dekat dengan Allah.  Jalan dekat dengan Allah itu bermacam-macam.  Yang bermacam-macam itu muaranya akan satu, yaitu ridha Allah, selama ikut cara Kanjeng Nabi.  Semua cara yang tidak ikut cata Kanjeng Nabi, tidak akan sampai kepada ridha Allah.  

halaman 58

Penggalan kalimat di atas, jelas meningkatkan kita untuk selalu mengikuti sunnah rasulnya bukan? Betapa kita sangat berharap ridho Allah Azza Wa Jalla. Mangkannya setiap langkah dalam aktivitas kita yang "innamal 'amalu binniyat" itu akan lebih baik jika diniatkan untuk mengikuti sunmah Rasulullah Sollallohu'alaihi wassalam. Baiknya perkara sunnah ini perlu kita kaji lagi dengan ulama, guru-guru kita, buku dan referensi lain.

Diterbitkan oleh : Republika Penerbit
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
iv + 176 Hal : 13,5x20,5 cm
Cetakan I : April 2018
ISBN : 978-6025-734-199
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

4 komentar

  1. Bener juga.. baca judul n lihat covernya nggak nyangka sinopsis nya beda dg harapan.. Eh, mungkin itu strategi pemasaran ya? Nggak tau deh. Bukan ahlinya ^^

    BalasHapus
  2. Aku sih belum membaca bukunya, tapi setelah baca review ini jadi penasaran. Apalagi, tokohnya adalah seorang remaja ini akan menjadi teladan banget.

    Kang Abik memang tidak ada duanya, jadi yakin dah sama karya-karyanya tidak akan meragukan isinya.

    BalasHapus
  3. Haduh, dibuat penasaran nih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email