Menulis Limaratus Kata itu Mudah


Selasa, suatu hari di bulan Juli. Harusnya aku menulis seperti biasa, apapun bisa saja ditulis. Karena sejatinya menulis itu memindahkan apa yang ada dalam pikiran, menjadi tulisan. Hmm, otakku tak dapat dukungan tangan sepenuhnya, hatiku sedang memikirkan yang lain. Hari itu aku gak nulis. Padahal mestinya seperti janjiku di tulisan sebelum ini. Kutulis kenapa tantangan dan istiqomah itu perlu untuk penulis. Baiklah. Menyesali apa yang tlah terjadi bukan merupakan hal yang dapat mengubah masa lalu itu bukan?

Meski dalam perasaan yang sama seperti hari itu. Jum'at ini terpaksa aku menulis. Mau bagaimana lagi? Muka gue mau ditaro di mana? Lah jelas-jelas gue yang mulai dan ngajak. Huft. Diri ini memang sedikit angkuh, seringnya padahal lumpuh. Tak bisa merangkai apapun. Untung Kang Sule dan temen-temen tetap semangat nulis. Istiqomah merekalah yang harus kita contoh. 

Ya, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Peribahasa ini cocok untuk rangorang yang rapuh dan kurang semangat sepertiku. Bagaimana kita mungkin akan sukses kalau mencoba saja ogah-ogahan. Padahal sejarah dan beberapa penemuan tercanggihpun berasal dari percobaan, malah ada yang dari kegagalan. 

Maka dengan tulisan ini, ku coba rajut kembali semangat demi semangat yang sempat terhempas rasa malas. Ku pungut kembali serpihan-serpihan gairah yang sempat terbuang. aku belum mau berhenti menulis. Meski menulispun tulisan ku belum ada apa-apa. Meski menulispun, aku masih tetap menjadi bukan siapa-siapa.

Biar nasi menjadi bubur, tak mengapa. Aku punya seledri dan daun bawang, lalu dengan daging ayam yang sudah ku goreng itu, juga telur puyuh dan bumbu kaldu menggoda yang resepnya ku comot dari google, maka bubur itu siap ku hidangkan. 

Okefix, udah 500 kata belum? Ah Ternyata 300 saja belum. Masih jauh sekali. Wkwkkw.

Baiklah, biar ada dagingnya. Tulisan ini akan ku selipkan beberapa ilmu pengetahuan. Hmmm apa ya? Bagaimana kalau kita bagi tips bagaimana menjadi suami yang baik? 

Menjadi suami yang baik adalah racikan dari seni, pengetahuan, keberanian dan hati yang mudah menerima nasehat. Lalu diproses dengan adukan pengalaman. Maka hasilnya adalah suami yang baik. Singkatnya suami yang baik adalah bukan suami yang buruk.

Oke ya. Mudah kan jadi suami yang baik? Cuman berusaha supaya tidak menjadi suami yang buruk.  Yeaaaaaay. Dapet deh tuh caranya.bSekarang bagaimana menjadi istri yang baik? Udah bisa ketebak dong, istri yang baik adalah istri yang tidak buruk. As simple as that? Heheh ya enggak lah. Proses nya panjang. Tapi bukan berarti enggak bisa dilakukan.

Setidaknya menurut gue cara menjadi suami yang baik itu sudah diajarkan oleh Islam. Kuncinya adalah bagaimana menjadi suami yang betakwa. Menjalankan segala perintahnya, dan menjauhi semua larangannya. Mendekati aja udah jangan, apalagi menjalani atau memakai yang sudah jelas dilarang.

Bagaimana cara menjadi penulis yang baik? Ini yang menurut gue masih sulit. Karena penulis baik menurut gue tidak semata-mata membagikan pengalaman baik, cerita baik atau ilmu yang baik kepada pembacanya. Sementara ini gue ngerasa belum menjadi penulis yang baik. Penulis terkenal juga pasti bilang yang sama. Orang baik mana sih yang ngaku dirinya orang baik didepan umum tanpa ada udzur syar'i? Ya kali gue orang politik.

Udah ya, udah 500 kata kayaknya. 
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email