Strategi Lulus Komunitas ODOP

4 komentar
Strategi Lulus ODOP

Salah satu tujuan bergabung di komunitas ODOP adalah untuk mengasah bakat dan minat di ranah literasi, apa jadinya jika tujuan itu berjalan tanpa strategi yang pas? Ibarat perang, apakah kita bisa berlari ke medan perang tanpa ada rencara terlebih dahulu? Walaaah, niatnya mau nunjukkin semangat berapi-api, eh malah langsung jadi santapan peluru musuh. Jadi kaya adegan film Peemaak yang versi humorisnya. Wkwkwkw

Strategi Lulus Komunitas ODOP


Sebelum tulisan ini dimuat, beberapa waktu lalu ada salah satu perintis ODOP, beliau adalah orang yang konsisten dalam menulis, prestasinya pun luar biasa. Beliau menulis begini :

Kelas Menulis One Day One Post ini serupa lomba lari maraton. Jarak tempuhnya panjang dan melelahkan. Seorang pelari maraton yang cerdik, ia akan mengatur ritme dan kecepatan. Pada awal-awal, mereka akan berlari ringan. Barulah di 1 Km terakhir, akan menggeber habis-habisan. Harapannya stamina bisa tetap terjaga sampai garis finish pada titik 45 Km di depan sana. Nah, begitu juga di ODOP, kalian harus mengatur ritme. Jangan memforsir stamina habis-habisan di awal kelas dengan menulis yang berat-berat. Menulislah tentang segala hal yang ringan-ringan saja. Nanti pada saat mendekati kelulusan, geber habis-habisan stamina kalian dengan tulisan-tulisan berat.





Gimana squad, sudah ada bayangan dong pastinya mau bikin straregi seperti apa. Kalau gue baca tulisannya Cak Heru itu, beliau intinya ngasih saran ke kita buat nulis yang woles-woles aja dulu.  Sambil belajar dan berlatih, nanti pas mau capai garis finish mulai deh tuh bergerak cepat secepat kilat. Kerahkan kemampuan yang ada.

Lalu sebenernya tulisan seperti apa sih yang bisa ditulis dengan woles?

Tulislah Diari

Mulai aja dulu, dari hal-hal kecil seperti menulis diari. Untuk mengasah diri dan membiasakan dulu 

Niswah Hikmah. Penulis, Editor, Ketua Divisi Kaderisasi FLP Sidoarjo

Senada dengan ucapan Kakak kece dari Sidoarjo, iya Kak Niswah yang tempo hari memberikan wejangan kepada peserta Oprek ODOP. Gue pikir diari adalah tulisan paling mudah untuk ditulis, tidak memerlukan pikiran yang berat. Hanya memindahkan apa yang kita lihat, dengar dan rasakan saja. Kayak curhat aja begitu.

Misalnya saja kamu lagi senang karena bangun pagi ada yang membangunkan, terus bikinin sarapan, sudah ada kopi juga yang sudah hangat dan siap diseruput. Betapa bahagianya kamu karena biasanya kamu yang siapin sarapan. Tuliskan kebahagiaan itu ”Oh betapa senang hatiku pagi ini, ketika mata ini terbuka, tiba-tiba mendarat sekecup semangat datang dari pasangan, lalu ia menawarkanku segelas kopi hangat kesukaan. Hmm sepertinya ia menungguku bangun sedari tadi” kurang lebih seperti itu lah ya, tulis yang ringan-ringan aja dulu.

Eh iya…ngomongin curhat, pernah nonton film tilik dong ya? Itu loh film yang viral belakangan ini, apalagi kalau sudah bahas tokoh bernama Bu Tejo, howalaaaaah. Satu yang mau gue bilang, setiap orang pasti punya suatu cerita yang ingin diceritakan. Maka, ceritakanlah jangan ditahan. Lantas tulislah, tidak perlu memikirkan KBBI atau aturan kepenulisan. Yang penting seneng nulis aja dulu. Udah seneng, baru deh tuh kejaaaaar!

Tulis Sebuah Ulasan (Review)

Selain menulis diari, menulis sebuah ulasan menurut gue udah enteng banget sih ya. Diantara kita pasti ada dong yang suka nonton, baca buku, makan di tempat makan, liburan ke tempat asyik, atau mengerjakan sesuatu yang menyenangkan lainnya. Nah, biasanya kita suka simpan beberapa gambar lalu suatu hari bakal kita posting di media sosial. iya kan? 

Atau habis melakukan aktivitas yang gue sebutin di atas itu, kita suka cerita juga kan ke temen-temen. Kayak kisah singkat Ujang dengan Maemunah berikut :

Ujang :  “Eh, Drakor It’s okay to not be okay itu keren banget loh, kemarin gue nonton sampe tamat 16 episode! Gue gak nyangka sama si Udin yang jadi pemeran cowoknya dia itu bla bla bla bla bla (Ujang ngobrol panjang lebar)

Maemunah hanya bisa manut-manut dengerin ujang bercerita.


Well, yang si Ujang lakukan itu sebenernya sering kamu lakukan bukan? Hayok ngaku! Wkwkw, kalau iya, coba deh ceritanya lewat tulisan. Jadi deh sebuah ulusan ala-ala hasil tulisan kamu sendiri. Lambat laun, kalau sudah biasa, bisa jadi penulis ulasan terkenal loh. Eh, ada tauk yang gara-gara nulis ulasan, dia bisa jalan-jalan ke Jepang, bawa ibunya lagi. Asli keren banget. 

Buat Puisi

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau!
Tak perlu sedu sedan itu, aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang


For your information ya, pusisi Chaerul Anwar di atas, adalah satu-satunya puisi yang gue hafal sejak gue kenal puisi (kira-kira waktu Madrasah Ibtidayah-setingkat SD) sampai sekarang. Ada banyak puisi sih yang pernah gue baca, beberapa pernah kepaksa gue baca depan kelas karena dimintai oleh guru. Tapi, yang paling berkesan sih adalah ketika gue coba nulis kata-kata sok indah itu ketika masa Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP)

Tak akan ada cinta, tanpa rasa
Tak akan ada irama tanpa nada
Tak akan ada aku yang bahagia
Bila engkau tidak ada dalam jiwa

Kebucinan itu terjadi begitu saja. Temen-temen juga pasti ada yang sempat merasakan itu dong. Wkwkw normal kali ya. Nah, balik lagi ke puisi. Menurut gue, bisa dibilang puisi adalah tulisan ringan yang bisa kita tulis untuk melatih naluri menulis.

Ketiga tulisan di atas menurut gue sangat mungkin ditulis dengan santai, santai banget malah. Enggak perlu banyak mikir, enggak perlu mikirin KBBI atau alur tulisan misalnya, enggak usah! Yang penting nulis aja dulu. Hehehe

Tapi kalau sudah enakan nulis, ketagihan bikin tulisan-tulisan lainnya, coba deh tuh nulisnya agak berat dikit. Terapkan KBBI nya. Gue juga masih nyoba sih. 

Iringi dengan Banyak Membaca


Selanjutnya adalah : "Penulis yang baik adalah dia yang membaca dengan baik." ini beneran loh. 

Tulisan-tulisan kita nantinya, dipengaruhi oleh apa yang kita baca. J.R.R Tolkien misalnya. Tolkien dari kecil sudah banyak membaca, banyak bahasa yang ia pelajari melalui bacaan sebelum akhirnya bisa menciptakan bahasa sendiri, budaya sendiri, bahkan dunianya sendiri. Iya betul, Lord of The Ring adalah salah satu karya terkenalnya. Lah kok gue tahu? Hehe, kemarin baru liat felemnya. Eh seru loh filmnya.

Jadi hayuk, jangan sampai malas baca apalagi ogah-ogahan. Cukup si Unyil dkk aja yang ogah-ogahan. Kita mah jangan ya! 
Intinya, kalau mau nulis baik, imbangi dengan membaca. Dan jangan lupa menuntaskan bacaannya. Jangan depannya doang. Melatih diri bisa dengan memaksa habis bacaan, termasuk yang mungkin membosankan bagi kita. Habiskan. Pernah lho baca novel yang sangat membosankan menurutku, sangat tidak menarik. Mana ratusan halaman pula. Kelarin, kelarin. Usai tuntas, kebayang betapa perjuangan penulisnya dlm menyelesaikan nulis novel setebal itu.

Wakhid Syamsudin. Penulis yang karyanya sudah melanglang buana di banyak media, Ketua Umum Komunitas ODOP Tahun 2019.

Belajar Lagi dan Lagi

Salah satu yang paling bisa diandalkan dalam menyongsong hal yang baru adalah : Belajar lagi dan lagi!

Jangan pernah berhenti untuk belajar. Belajar bisa lewat apapun, siapapun dan di manapun. Isaac Newton pernah belajar dari pohon apel yang jatuh bukan? Yang dari sana tercetuslah hukum Newton--yang sampai sekarang si Hukum Newton masih menjadi pelajaran wajib di kelas fisika. 

Belajar bisa dari mana saja meski di penjara sekalipun. Tokoh-tokoh terkenal bangsa kita bisa dijadikan contoh tuh, mereka tetap bisa berkarya meskipun dipenjara (sebetulnya enggak salah, hanya dianggap salah oleh oknum tertentu) contohnya Buya Hamka yang ketika di Bui berhasil menerbitkan tafsir Al Qur'an. Atau Pramoedya Ananta Toer yang menerbitkan novel. 

Jadi apapun, kapanpun dan di manapun. Harus tetap belajar ya, tua atau muda, lapang maupun sempit harus mau belajar terus-terusan.

Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan -Imam Syafi'i, salah satu dari empat Imam Mazhab

Strategi Lulus ODOP #BATCH8

Balik lagi. untuk memenangkan perang, melewati setiap tantangan demi tantangan dalam rekruitment Anggota Komunitas ODOP ini, teman-teman dituntut untuk mampu melewatinya. Adapun beberapa tips atau strategi yang sudah gue bahas di atas, bisa teman-teman aplikasikan dengan strategi masing-masing. Lalu yang perlu diperhatikan  adalah :

Ikuti aturan, selesaikan tugas secepat mungkin, bikin mudah aja dengan tidak menunda-nunda tugas. Jangan pernah mengabaikan waktu dan kesempatan, segera menulis dengan konsisten dengan waktu yang sudah sengaja ditentukan oleh masing-masing. 

Saya punya waktu untuk tidak menulis, tapi sekalinya menulis, saya larang diri untuk berhenti. Itu melatih naluri tanggung jawab dalam diri saya

Puthut EA, kepala Redaksi Mojok dan Penulis Puluhan Fiksi, Drama, dan Essai

Saya tentu berharap dengan semakin banyak orang yang bergabung dan berhasil lulus menjadi anggota Komunitas One Day One Post, semakin banyak pula para penulis yang menebarkan kebaikan, menularkannya kepada orang sekitar. Semakin banyak pula tulisan yang menginspirasiorang lain untuk berbuat baik, atau meyakini kebaikan. Maka dengan semua itu, saya berharap komumitas ODOP bisa menjadi jembatan bagi Indonesia untuk menumpas kejahatan lewat tulisan.




Sekian gue Baim 
Gue penulis, bukan teroris.

Referensi : Pesan-pesan di WAG Grup Besar ODOP 8 ketika proses rekrutmen sedang berlangsung.
Ibrahim Dutinov
Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Related Posts

4 komentar

  1. Waaaahh...ilmu banget ini kaak...Terimakasih sudah berbagiii yaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiii. Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung ya Mbak

      Hapus
  2. Aku komentar lagi pake link bloq wordpress ku kak..hihhiihb

    BalasHapus
  3. Cukup si Unyil dkk aja yang Ogah-ogahan. Kitamah janga ya! #moodbooster

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email