https://www.idblanter.com/search/label/Template
https://www.idblanter.com
BLANTERORBITv101

Alasan Kenapa Saya Harus Menulis Blog

Selasa, 02 Maret 2021

kenapa saya harus menulis




Kenapa saya harus menulis blog? Loh, kenapa ya? Karena dibayar? Atau karena ingin dapat pahala? Atau mungkin alasan paling sederhana yang pernah ada… karena iseng aja. Haha, nulis aja ternyata harus ada alasannya biar makin greget dan asal-asalan.

Ya memang, segala sesuatu berupa amal kegiatan yang kita lakukan bisa menjadi pahala yang sangat besar tergantung bagaimana kita meniatkannya. Dari sini, pastinya bisa ketebak alasan kenapa saya harus menulis dong ya. Yap! Adalah karena ibadah. Semata-mata ingin mendapatkan ridhonya Allah subhanahuwataála.

Tapi tunggu dulu, apa karena itu aja? Ya enggak sih hehehe, ibadah kan banyak. Dalam tulisan ini saya coba susun beberapa alasan kenapa saya harus menulis.

Alasan kenapa saya harus menulis blog

1. Karena ibadah

Ini sebenernya alasan kenapa saya harus menulis blog yang sering saya lupakan. Makannya ditulis di nomor 1. Sebagai alasan paling awal. Padahal susah banget nulis karena ibadah itu. Banyak godaanya. Bahkan nih ya, ada ulama yang menyarankan untuk tidak menulis karena ibadah.

Loh kenapa? Karena katanya kalau nulis karena ibadah, tulisannya nggak akan pernah beres. Pasti sering diganggu setan. Jadi kalau mau, niatnya untuk yang lain aja. Biar nggak diganggu sama setan. Ahaha bener juga ya

2. Pengen punya jejak

Ya siapa sih yang mau semasa hidupnya tidak meninggalkan apapun. Untuk cucu kita, untuk penerus peradaban selanjutnya.

Walaupun sebetulnya sulit banget nulis sesuatu yang manfaat. Tapi karena pengen punya jejak. Ya sudah nulis aja, urusan jejak beneran yang bisa bermanfaat kan bisa diasah kalau sudah memulainya.

Di akhir nanti, saya berharap setiap jejak yang saya tulis bisa mendatangkan manfaat. Mempengaruhi orang untuk bisa berbuat baik. Mengajak mereka kepada kebaikan—yang intinya adalah semata-mata karena ingin mendapat ridho Allah.

3. Pengen dapet uang

Alasan kenapa saya harus menulis blog selanjutnya adalah karena jujur, saya pengen dapet uang. Biar nanti bisa jadi nafkah buat keluarga, bisa jadi wasilah terpenuhinya kebutuhan keluarga. 

Katanya nulis di blog itu bisa menghasilkan. Awalnya sih saya tidak percaya. Apalagi setelah tahu tulisan saya itu seperti apa. Ah rasanya mustahil. 

Setelah dijalani beberapa bulan, Eh ternyata emang nggak menghasilkan uang sama sekali. Hahaha justru yang ada nulis curhat ala-ala gitu. Pokoknya jauh dari kata bagus.

Tapi ternyata niat mendapatkan uang dari blog terlaksana setelah lebih dari 9 tahun pertama saya membuat blog. Dan 1 tahun lebih setelah mulai aktif kembali menulis.

4. Writing for healing

Ini apa? Gak tahu sih saya juga. Ikut-ikutan aja. Saya tahu manfaat menulis untuk menyembuhkan juga baru beberapa bulan terakhir. Dan ternyata memang berhasil. Banyak dari tulisan yang saya tulis sebetulnya—meskipun jelek— tapi bisa membuat saya lebih tenang menjalani hidup.

Banyak sekali tulisan yang hanya ditulis tapi tidak jadi di publish karena saya merasa sudah sembuh. Haha begitulah pokoknya.

Jadi setelah saya menuangkan beberapa unek-unek di hati dalam sebuah tulisan, ada bagian hati yang lain yang menyarankan saya untuk menuliskan solusinya sendiri. Misalnya saya tulis begini “duh kesel banget nih saya si fulan, dia kok bisa-bisanya melakukan itu kepada saya…” lalu hati yang lain menuliskan solusinya “E tunggu dulu, udah tabayun belum bro? jangan-jangan si Fulan nggak sengaja” taraaaaa.. kelar deh tuh masalah.

Prosesnya sih nggak instan ya. Tapi setelah ditulis, nggak lama kemudian hati menjadi tenang. Prosesi ibadah yang lain juga jadi tenang kan. Eh kok balik lagi ke ibadah sih? Syukurlah.

5. Menulis karena Cinta

Alasan kenapa saya harus menulis blog atau di manapun. Yang ini… lebay sih. Bucin pissan. Jadi saya punya istri yang pandai menulis. Saya merasa perlu mengimbangi kepandaiannya menulis dengan berlatih menulis. Banyak kelas yang saya ikuti supaya bisa menyamai kepandaian si Cinta. Biar dia bangga punya saya yang juga bisa nulis.

Alasannya saya ingin menjadi bagian dari dirinya, menulis bersamanya dalam terik dan hujan. Berlarian ke sana ke mari dan tertawa. Eh kok kayak lirik lagu apa gitu yak. Hahaha

Menyengankan Istri itu ibadah juga yakan?

6. Menulis biar tahu banyak hal

Ternya eh ternyata saya yang susah baca buku ini lebih bisa melahap buku ketika mulai bisa menulis blog. Ketika ingin menuliskan satu artikel misalnya, saya biasa membaca beberapa artikel referensi supaya tulisannya bisa nyambung. Bisa dari buku, atau media daring.

Padahal kalau disengaja, jarang banget baca buku. 

Apalagi ketika menulis untuk orang lain—alias menjadi penulis bayangan— seringnya saya jadi tahu banyak hal dari aktivitas ini.

Saya berharap mengetahui banyak hal, saya jadi bisa lebih banyak menebarkan manfaat lewat tulisan. Tadinya sih susah nulis. Tapi, kerena kepaksa, eh jadi bisa kan. 

Mudah-mudahan di kemudian hari bisa menuliskan banyak hal yang bisa mendatangkan manfaat.

7. Menulis karena ingin

Di lain sisi, keinginan untuk menjadi penulis. Dikenal namanya sebagai seorang yang memiliki karya dalam bentuk tulisan adalah keinginan saya dari dulu. Rasanya keren gimana gitu kan, tapi ternyata selain keren, bisa menuliskan satu karya berupa buku kan lumayan tuh. Wasilah untuk orang yang tidak tahu menjadi tahu.

Sekarang menulis di blog dulu, nanti nulis di tempat lain. di buku solo misalnya, buku Jawa mungkin. hehe

Penutup

Ah, rasanya alasan kenapa saya harus menulis blog ini lebih banyak bohongnya. Hahaha karena nyatanya saya ternyata tidak sebaik itu.

Ditulisnya 7 alasan kenapa saya harus menulis itu supaya saya bisa melihat kalau masih banyak hal yang harus saya perbaiki. Terimakasih sudah berkunjung.



Author

Ibrahim Dutinov

Pembela kebenaran, pencari jomet sejati. Gue Ibrahim, gue penulis. Bukan teroris!

Hi, Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat ya.
Kalau ada pertanyaan, permintaan, atau bantuan melupakan mantan, silakan tinggal berkomentar, eh tapi jangan kasih link hidup ya gaiss.

Dariku untukmu pembaca budimanku
Best Regards, Baim Dutinov